Jumat, 02 Desember 2016

Ketika hujan turun..

Source: www.google.com

Malam itu aku dan mbak fia sama-sama menambah gizi. Bukan istilah perbaikan gizi ala anak kos, karena gizi kami sudah terlalu baik sampai jadi frustasi. Gagal diet justru bagai motivasi untuk tetap makan, makan dan makan. 
Maka jadilah kami boncengan di sekitar jalanan GKB (Gresik Kota Baru) malam-malam lewat pukul tujuh, waktu yang harusnya dimusuhi oleh gadis-gadis untuk makan malam. Niatku cuma ngemil aja sebenarnya (tapi camilan versiku mungkin terlalu berat, bukan menu cantik semacam salad-saladan).
Sampai akhirnya kami menjatuhkan pilihan di mie aceh Kedai Ajay, yang ternyata menunya makanan berat semua. Padahal dulu ada menu camilan lho, semacam roti canai dan martabak. Ada apa dg buku menu ini? 😢

Skip.
Makan selesai. Kami memutuskan untuk pulang ke rumah sebelum makin larut.
Tiba-tiba di tengah perjalanan hujan turun. Terjadilah dialog ala sinetron di antara kami.
Mbak Fia : "Diks, kakak kedinginan"
Aku : "Nggak papa, Kak. I love the rain. Adik suka hujan." (Padahal gigi atas-bawah udah saling berbenturan menahan dingin)
Mbak Fia : "Endel, I love the rain. Nanti Kakak atit. Besok kakak kerja."
Aku : "Enggak kak, enak dingin-dingin nanti tidurnya jadi nyenyak."
Mbak Fia : "Duwingin diks.. hhrrr" (menahan dingin)

Sampai di rumah..
Bapak : "Darimana rek? Wah wah.."
Mbak Fia : "Cari makan, pak. Prima lho pak kesenengen hujan-hujan, uwadem padahal." (Kembali ke dialog normal)

Padahal aku sudah masuk ke dalam rumah, buru-buru mengganti pakaian basahku.

Begitulah,
Kadang menurut kita waktunya tepat, tapi bagi orang lain itu malah mengganggu.

Kadang apa yang kita mau, belum tentu jadi harapan orang lain juga.

Kadang apa yang kita sukai, belum tentu orang lain juga suka. 
Sama kayak makanan, apakah hujan juga urusan selera?

Kamis, 10 November 2016

Bisik - Bisik Tetangga

Hmm...
Namanya hidup bertetangga.
Kalo A sama B kumpul, ngomongin si C.
Kalo A sama C kumpul, ngomongin si B.
Kalo B sama C kumpul, ngomongin si A.
Giliran ABC kumpul, cari target empuk lainnya dong, si D.
Gitu aja terus dari rumah nomer 1 sampe 101.
Tetangga masa gitu?

Dari tetangga yang paling anteng sampe  yang paling lincah. Ada aja celahnya. Kalo kelihatan nggak ada, ya dicari-cari. Cari-cari subjek dan objek buat diomongin (mulai dari si A sendiri, rumahnya si A, belanjaan si A, mobilnya si A, motornya si A, suaminya si A, anak-anaknya si A, temen anaknya si A, pacar anaknya si A, sampe temen pacarnya si A). Apa aja deh, yang penting gosip lancar.
Nggak peduli waktunya. Dari pagi sampe petang, kapanpun sah-sah aja kalo sempet. Kalo nggak sempet ya disempet-sempetin.

Repot ya punya tetangga. Kalo nggak punya tetangga lebih repot lagi.

Yang penting anteng aja. Kalo dicari celahnya yaudah cari celahnya balik. Eh?
Maksudku, nggak ada manusia tanpa celah. Nggak perlu dicari jg  udah tau kalo dia punya celah 😉

Jadi, kalo nggak ada keperluan yang mendesak mendingan nggak usah keluar rumah, daripada bergosip.
Merugikan diri sendiri dan orang lain.

*Ngetik sambil buka ig lambe_turah 😗

Minggu, 06 November 2016

Kedok Hadiah "Gratis"

Source: google.com

Beberapa bulan lalu, aku sama Fani (adikku) yang lagi jalan-jalan ke salah satu mall di Surabaya, dihampiri oleh seorang cewek yang menyodorkan hadiah.
Tepatnya di depan sebuah counter yang agak sepi, ada mbak-mbak yang heboh sendiri mencegat kami untuk memberi sebuah kotak (seukuran kotak pensil) yang dibungkus rapi dengan kertas kado dan dilapisi selotip. Aku udah heran dengan cara membungkus kemasannya yang super rapat itu, gimana cara bukanya kalo seluruh permukaannya dilapisi selotip? 
Aku yang curiga udah berjalan nggak peduli, sedangkan Fani dengan polosnya langsung menerima itu. 
MBAK : "Permisi Mbak Cantik, kami baru buka toko elektronik dan sedang bagi-bagi hadiah untuk pengunjung yang beruntung."
AKU : "Oh iya"
MBAK : "Jadi ini ada hadiah dari kami, tapi sebelumnya Mbak Cantik belum pernah dapat kan?"
AKU : "Belum."
MBAK : "Yaudah kita isi data dulu ya Mbak, biar jadi tanda kalau udah dapet. Ikut saya dulu ya."

Entah kenapa aku nggak kuasa menolak. Aku terpaksa mengikuti langkah si Mbak gara-gara Fani terlanjur menerima hadiah itu. Selama berjalan Mbak ini bertanya basa-basi yang membuatku risih dengan panggilan "Mbak Cantik" yang diulang-ulang. Semakin terasa basi di telingaku saat itu. Dan terdengar seperti rayuan gombal.

Kami dibawa ke area mall yang menjual barang-barang elektronik dan berhenti di salah satu counter kecil. Kami pun diajak masuk dan dipersilahkan duduk. Di counter itu ada dua orang wanita dan dua orang pria. Dua orang wanita itu seumuran ibu-ibu memakai pakaian sewajarnya, yang tiba-tiba menghentikan obrolan serunya ketika kami datang.
Sedangkan seorang pria mengawasi kedatangan kami dengan wajah datar, dia memakai baju super rapi dengan kemeja putih, ikat pinggang, celana kain hitam, berkacamata (pokoknya meyakinkan sekali). Seorang pria lain memakai kaos hijau sama seperti pakaian yang dikenakan Mbak yang mencegat kami tadi.
Mereka menatap kedatangan kami.
Mbak yang tadi langsung mempersilahkan kami duduk. 

Aku rasanya pengen segera meninggalkan counter itu. Malas berbasa-basi, tapi demi etika selayaknya orang yang baru diberi bingkisan rasanya tidak sopan kalau pergi begitu saja.
Mas yang berseragam sama dengan Mbak tadi ikut bergabung dengan kami dan berkenalan.
Kami pun berkenalan, menyebutkan nama masing-masing. Walaupun aku nggak peduli siapa nama Mas dan Mbak ini, terlebih aku juga susah mengingat nama.
MAS : "Asalnya darimana Mbak?"
AKU : "Gresik"
MAS : "Wah sama."
AKU : "Oh ya?"
MAS : "Iya, saya Driyorejo. Mbak dimana?"
AKU : "GKB."
MAS : "Oh, Gresik Kota Baru."
Feelingku mengatakan kalau si Mas nggak benar-benar dari Gresik. Kenapa? Karena menurutku dia cuma ingin membangun kedekatan dengan berasal dari kota yang sama (Aku pernah mengalami hal serupa sebelumnya dengan kasus yang berbeda.)

MBAK : "Mbak Cantik, boleh pinjam KTP nya?"
AKU : (mencari KTP di dompet)
MBAK : "Saya catat dulu ya."
Sementara si Mbak sibuk mencatat, si Mas mulai berbasa-basi lagi.
MAS : "Habis ngecat ya tadi Mbak? Itu kukunya ada warnanya."
AKU : "Hehe enggak" (ketawa garing)
Si Mbak ikut ketawa.
MAS : "Di sini kuliah atau sekolah?"
AKU : "Kuliah."
MAS : "Dimana?"
AKU : "Unair."
MAS : "Ambil jurusan apa?"
AKU : "Hukum."
MAS : "Waah nggak berani saya kalau hukum. Jadi jaksa tinggal ketok-ketok palu."
Si Mbak tertawa mendengar ucapan Mas itu.
AKU : ????? (Jaksa ketok-ketok palu?)
MAS : "Semester berapa Mbak?"
AKU : "8."
MAS : Wah udah mau lulus brarti ya.
MBAK : Lho, iya ta? Nggak kelihatan bgt. Masak seh mbak? Tadi saya kirain masih SMA malah.
Feelingku mengatakan ini adalah trik. Paling si Mbak berusaha menyenangkan hatiku, untuk membangun mood-ku agar enak kalau diajak ngobrol lebih dalam nanti.
Nggak tau kenapa selama di sana aku malah sibuk berdialog sendiri dengan otakku. Kesannya negative thinking banget. Eh, waspada ding! Jadi penjelasan-penjelasan si Mbak dan Mas nggak begitu ku pedulikan.

Setelah si Mbak mengisi data-data. Dia kembali nimbrung.
MBAK : "Oke Mbak Puspa sama Mbak Fani, sebelumnya saya mau jelaskan dulu ya." (sambil mengambil sebuah brosur)
AKU : (Puspa? Aku? Yaudah sesenengmu aja mbak.)
MBAK : "Jadi, toko kami baru saja dibuka Mbak, namanya Toko elektronik blablabla lokasinya ada di blablabla..." (dia menunjukkan logo dan alamat toko yang ada di bagian atas brosur, yang aku yakini sebagai alamat fiktif belaka) "kami menjual barang-barang elektronik dan rencananya kami akan mengembangkan toko kami, ya semacam toko elektronik Hartono, tau kan, Mbak?"
AKU : "Iya."
MBAK : "Nanti kalau ada waktu silahkan main-main ke toko kami ya, Mbak, hehehe. Jadi dalam rangka pembukaan toko kami, kami bagi-bagi hadiah untuk pengunjung yang beruntung." 
Mbak baju ijo panjang lebar memberi penjelasan tentang "aturan mainnya".

Intinya kita disuruh milih, mau souvenir kecil yang dikasih tadi atau menggosok kupon berhadiah. Kalo pilih menggosok kupon berhadiah dan nomernya cocok dengan deretan nomer-nomer "beruntung" yang ada di selebaran bergambar TV, Iphone 5s, Iphone 6, kulkas, dll., maka kita harus mengembalikan souvenir kecil tadi. Eh kok kita disuruh milih, tapi Mbak dan Masnya mengarahkan ke gosok kupon. Maksa!

Yaudah, kita gosok kupon yang udah jelas nomernya bakal cocok dengan yang ada di selebaran. Mbak dan Mas pake acara nyuruh baca basmallah segala.  Lalu pura-pura sibuk nggak ngelihat. 
MBAK : "Gimana Mbak Cantik? Nomernya ada yang cocok?"
AKU : (mbatin, nggak sampe sedetik juga udah nemu salah satu nomer yang cocok dengan kuponku nomer 8999xxx) "iya, ada."
MBAK : "Hah? Beneran Mbak? Yang mana?"
AKU : "iya." (Menunjuk salah satu nomer diantara deretan nomer-nomer lain)
MBAK & MAS : (menyalami dengan heboh) "Waaah selamaaat yaaa, Mbak!"
MAS : "Mimpi apa Mbak semalem? Beruntung sekali hari ini dapat hadiah."
AKU : "Nggak mimpi."
MAS : "wah, berarti memang hoki ya Mbak."
*Justru aku merasa lagi sial lho, Mas!*

Teruuus, si Mbak melanjutkan dengan menjelaskan aturan main selanjutnya. Intinya, kita bakal dapat hadiah jika menggosok kupon lagi untuk menentukan hadiah yang akan dibawa pulang. Semacam hadiah hiburan yang "katanya" udah pasti dapet, ada sekitar 8 jenis hadiah hiburan. Berupa kamera digital, setrika, dispenser, dll.
Yaudah gosok kupon lagi, disuruh baca basmallah lagi + ditanyai pengen hadiah hiburan yang mana diantara semua pilihan hadiah yang ada. 
AKU : "Nggak tau."
MBAK : "Lho, kok nggak tau Mbak? Seneng dong dapet hadiah? Seneng nggak, Mbak?"
AKU : (senyum palsu)
MAS : "Kamera digital nggak mau, Mbak? Suka selfie kan pastinya?"
AKU : "Udah ada, Mas. Di rumah."
MAS : "Magic com pasti mau dong? Anak kos biasanya masak nasi sendiri biar hemat."
AKU : "Udah bawa dari rumah kok, Mas."
Aku pun menggosok kupon "berhadiah" tersebut biar cepet kelar dari tawar menawar yang nggak perlu ini. Setelah mencocokan nomer dengan hadiah hiburan, dapetnya setrika.

Lanjut ke aturan main yang selanjutnya. Kalo kita ambil hadiah hiburan itu, berarti kesempatan untuk dapet hadiah yang lebih besar akan gugur. Tapi, Mas dan Mbak yang ngeyelan ini, super maksa biar lanjut ke tahap selanjutnya. Yaudah, udah tahap terakhir kok.

Mbak baju ijo sibuk menjelaskan tentang gambar-gambar hadiah yang ada di selebaran itu, berikut cara mendapatkannya. Jadi, hadiahnya gratis. Tapi kita hanya perlu membayar biaya produksi. 
Di lembaran itu tergambar hadiah gede-gede, ada 2 set home teather yang beda jenisnya, televisi, iphone 5s, iphone 6, kulkas, dll., yang di bawahnya tertulis nominal harga produk tersebut. Misal, harganya 5juta, kita hanya perlu membayar biaya produksi 2juta. Tapi bayarnya harus saat itu juga agar hadiahnya bisa dilepas. Padahal serah terima barang nggak terjadi di hari itu, lah wong barangnya aja nggak ada sekarang.

MBAK : "Jadi di tangan Mas ini ada amplop-amplop yang berisi kupon berhadiah, Mbak. Kalo Mbak ambil salah satu amplopnya dan kuponnya cocok dengan salah satu hadiah di sini, Mbak Puspa udah nggak bisa mundur lagi. Harus diambil hadiahnya dengan syarat membayar biaya produksinya saja."
MAS : (senyum-senyum memamerkan amplop-amplop di tangannya)

MBAK : "Seandainya dapet nih, Mbak, diantara hadiah-hadiah ini Mbak Puspa pengen yang mana?"
AKU : (diam. Kok malah disuruh mengkhayal sih?)
MBAK : "Iphone 6 nggak mau, Mbak?"
AKU : "Ya, mau sih." (Siapa yang nolak kaloooo gratis?)
MBAK : "Jadi nanti kalo misalnya, Mbak Puspa kuponnya cocok sama Iphone 6 ini bakal diambil ya, Mbak?"
AKU : "Enggak."
MBAK : "Lho, kenapa Mbak?"
AKU : "Biaya produksinya mahal."
MBAK : "Atau ini Iphone 5s mau, Mbak? Lebih murah, dapet 2 lagi. Dengan bayar biaya produksi segini, Mbak Puspa bisa dapet 2 Iphone5s lho Mbak."
AKU : "Enggak juga, Mbak."
MAS: "Kenapa, Mbak?"
AKU : "Ya, saya kan anak kos, Mas, masih kuliah. Nggak mungkin kan ada duit sebanyak itu. Harus koordinasi dulu sama orang tua."
Mas dan Mbak mulai meracuni dengan pilihan hadiah lainnya.
MAS : "Gini deh, Mbak, kalo kuponnya cocok dengan televisi ini gimana? Biaya produksinya kan cuma 400ribu aja."
AKU : "Udah bawa TV kok, Mas, di kosan."
MAS : "Tapi kan TV nya beda, Mbak. Ini TV blablabla lho, Mbak. Yakin nih nggak mau diambil?"
AKU : "Enggak, Mas."
MAS : "Kenapa, Mbak? Coba pikir-pikir dulu deh, Mbak. Sayang banget soalnya udah dapat kesempatan ini."
MBAK : "Iya, sayang banget kalo nggak diambil Mbak. Saya aja mau kalo dapet, cuma bayar biaya produksi aja."
AKU : "Nggak deh, Mbak."
MBAK : "Kenapa, Mbak?"
AKU : "Ya balik lagi kayak tadi, saya kan anak kos. Harus ijin orang tua di rumah dulu, Mbak."
MBAK : "Meskipun cuma 400ribu, Mbak?"
AKU : "Tetep ijin orang tua, Mbak."
MBAK : "Jadi nggak akan diambil nih hadiahnya, Mbak?"
AKU : "Enggak, Mbak."
Si Mbak langsung membanting punggungnya di sandaran kursi, terdengar jelas nada bicaranya mulai kesal, "Yaah, sayang banget, Mbak." Mungkin dia lelah, udah ngoceh panjang lebar dari tadi nggak membuahkan hasil.
MAS : "Yaudah, nggak papa, Mbak. Kita minta tanda tangannya ya, sebagai bukti kalau Mbak sudah pernah dapat kesempatan ini."
Aku langsung menandatangani buku yang disodorkan yang berisi data pribadiku dari KTP tadi.
MAS : "Makasih ya, Mbak." (Sambil menyalami, disusul oleh si Mbak yang ikutan menyalami dan berterima kasih) "Setelah ini mau kemana, Mbak? Jalan-jalan atau mau nonton?"
AKU : "Mau makan, Mas, laper, hehehe." (Berdiri dan bersiap pergi dengan kilat).
MAS : "Oh yaudah, hati-hati ya, Mbak."

Huaaah, akhirnya bisa menghirup udara kebebasan ~

Hal seperti ini udah sering banget terjadi. Beberapa pekan sebelumnya, kakak dan adikku juga mengalami hal yang sama di Gresik. Lagi-lagi karena Fani yang polos menerima brosurnya 😅
Untungnya kakakku berhasil cari alasan untuk kabur ditengah penjelasan panjang lebar tentang aturan main dengan alasan buru-buru udah malem keburu "M*tahari" tutup. (Sengaja sensor, biar nggak ketahuan).

Dan setelah kejadian hadiah palsu yang ku alami ini, aku langsung menelusuri Google, mencari tahu apakah ada yang mengalami hal serupa. Ternyata buanyaak. 😧 hanya nama toko elektroniknya aja yang beda, konsepnya sih sebagian besar sama aja. Dan ada yang mengikuti "permainan" ini sampe tahap akhir, dan ternyata barang yang diterima berbeda jauh kualitasnya dengan barang yang ada di gambar.

Beberapa hari kemudian, aku yang lagi jalan ke "M*tahari" Gresik, deket pintu masuk disodori brosur yang serupa dengan itu. 
Aku : "Udah pernah, Mas" (tanpa menerima brosur yang diberikan)
Mas : "Pernah? Dapet apa, Mbak?" (Mundur perlahan lalu pergi sebelum mendengar jawabanku). 

Mirisnya, kenapa mereka bisa masuk ke tempat-tempat seperti itu? Menurutku, sebagai pengunjung, aku jelas merasa terganggu sekali. Meskipun aku nggak mengalami kerugian dalam hal finansial karena menolak untuk membayar "hadiah" yang dijanjikan, tapi aku merasa rugi waktu karena dipaksa mengikuti alur permainan yang berbelit-belit ini. 😧

Rabu, 22 April 2015

"linglung day"

Hari ini aku linglung sekali. Padahal hari ini uts pidkor. Semua yang ku pelajari mendadak blank. Seolah kabur dari otak begitu saja. Caraku menjawab jg ngelantur nggak karuan. Sama sekali nggak sistematis. Rasanya jawabanku malah jadi cerpen nggak jelas. Entahlah hari ini kok kayaknya aku ke kampus cm bawa badanku saja, trs pikirannya ketinggalan di kos. Semoga hasilnya tidak ngelantur terlalu jauh dari harapan.
Abis ngumpulin lembar jawaban, nggak tau terlalu kenceng waktu nutup atau gimana, ujung resleting tas ransel (yg dipake buat narik" resleting) jatuh ke lantai. Untungnya resleting tasnya udah nutup, jadi aku nggak perlu pulang ke kos dengan nenteng tas dalam keadaan kebuka.
Ternyata nggak berakhir sampai di situ, pulang ngerjain uts yang masih dalam keadaan ruwet mikirin jawaban uts yg jadi ngelantur aku beli makanan buat di kos.
Aku beli pentol gila, maksudku beli "paket was-was", tapi ngomongnya beli "paket gila aja". Akhirnya dilayani deh yg paket gila aja.
Tiba-tiba aku sadar kalo resletingku gabisa dibuka gara-gara kaitannya lepas. Sedangkan dompetku ada di dalem tas. Gimana bayarnya coba? Pikiranku lgsg makin kacau, kalo resletingnya dijebol brarti konsekuensinya aku pulang sambil menenteng tas ransel berat ini dalam keadaan terbuka, nggak mungkin dicangklong di pundak. Kalo nggak dijebol, aku nggak bisa bayar. Yaudah dijebol aja :'(
Abis itu, aku beli ayam goreng di sebelah pentol gila. Maksudku beli "ayam dada", aku ngomongnya jadi "ayam paha".
Nyadarnya selalu terakhir-terakhir pas udah dilayani sama yg jual.
Sebelum semua makin parah, aku buru-buru balik ke kos. Terlebih kerepotan banget bawa tas resleting jebol, ayam, dan pentol dengan saus yang tumpah-tumpah gara-gara miring. Padahal tadinya aku jg berencana beli jus dan jajanan ringan lain saking sumpeknya, tp terpaksa kubatalkan daripada malah makin salah, niatnya beli jus jeruk gara-gara liat wortel jadi bilang beli jus wortel. -_-

Rabu, 11 Juni 2014

Ibu



Aku jarang buka facebook. Tapi beberapa hari yang lalu aku share status dari FP Tere Liye, yang isinya:
" doa ibu tidak ternilai harganya... boleh jadi doa itu telah membuka kunci2 kesempatan. menjauhkan bala dan marabahaya, menyingkirkan hambatan, atau mengangkat beban di pundak kita.doa seorang ibu tdk ternilai harganya..."

Tak lama kemudian, ada komentar pada status tere liye yang baru aku share, komentar dari orang yang nggak aku kenal sama sekali. Seorang yang murni baru aku tau dari dunia maya, dan baru aku tau detik itu, mungkin ini kategori teman pas aku baru-baru bikin facebook dan aku mengakui keteledoranku meng-konfirm secara asal-asalan. Dulu.
Mungkin itu nggak penting, sejak kapan dia menjadi teman facebookku. Yang terpenting adalah komentarnya. Begini:
Ibu yang bagaimana??? 
Dan ibu yang rela meninggalkan anaknya demi 
keegoisanya ,itu ibu yang gimana????

Aku pengen hapus komentar itu pada awalnya, dan pada akhirnya aku mengurungkan niat itu, dia punya hak untuk berpendapat. Tapi aku merasa tanda tanya dalam kalimatnya bukan menunjukkan pertanyaan, itu seperti sebuah penilaian. Lantas aku harus menjawab apa? Ibu yang bagaimana? Memangnya statusku dikhususkan untuk ibu-ibu tertentu? Memangnya ada berapa jenis ibu? 
Faktanya aku enggan membalas komentar itu, jika aku membuat pembelaan pasti dia menyikapinya tidak dengan kepala dingin. Dan ini malah akan memperkeruh keadaan. Terlebih aku nggak tau bagaimana kondisinya.

Aku jadi ingat, hari sebelum aku share status Tere Liye, aku membaca sebuah novel. Tapi ini sama sekali tak ada hubungannya dengan status yang aku share. Justru membaca komentar orang tersebut membuat aku teringat dengan novel yang baru selesai aku baca. Yang mana salah satu tokohnya sangat membenci Ibunya. Ibu itu menjual anaknya ke orang kaya lalu sang Ibu pergi ke Las Vegas untuk berfoya-foya. Tapi ini novel. Seorang penulis bebas mengikuti imajinasinya. Aku rasa tidak ada Ibu yang sekejam itu.

Beberapa hari sebelum aku membaca novel itu, aku menemui kasus yang serupa dimana seorang anak sangat marah pada ibunya. Juga di facebook. Kali ini, masih orang yang tak aku kenal di dunia nyata. Sebut saja namanya "Budi" (dari sekian banyak nama kenapa ini yang terlintas?). Statusnya muncul di beranda. Awalnya aku mengira kata-kata dalam statusnya mengutip salah satu dialog yang dikatakan Radit dalam film Radit&Jani. Tapi aku yang memang lagi kepo, membuka profil facebooknya dan menemukan wall dari seseorang yang menyuruh Budi pulang karena kakeknya meninggal. Budi mengomentari wall itu dan hanya menjawab singkat "Gak". Jawaban ini membuatku mengerutkan kening. Ternyata setelah aku baca intinya: Budi kecewa dengan keluarganya yang tak merestui Budi menikah dengan istrinya. Aku langsung penasaran dengan istrinya dan ternyata facebook itu full dengan foto Budi bersama seorang wanita dengan rambut lurus berwarna merah, setiap fotonya memakai baju tanpa lengan dengan rok atau celana pendek yang super minim, bahkan dia bersedia difoto dalam kondisi apapun dan di upload ke facebook. Aku langsung menebak kalau ini istri Budi. Oke, aku nggak boleh menilai seseorang dari penampilannya.
Tapi Si pengirim wall mengatakan bahwa seluruh keluarga besar sudah menerima dan tiap hari Ibu si Budi menangis merindukan Budi. Pengen tau kabar Budi dan meminta Budi untuk pulang. Budi masih keras kepala, dia bilang dia tidak butuh siapa-siapa, dia telah sepakat dengan istrinya bahwa dia akan menjalani hidup ini berdua karena dia sangat mencintai istrinya(?) Si pengirim wall sudah mengingatkan bahwa ridho Allah ada pada ridho orang tua. Tapi Budi tetap berlalu, tak peduli.
Entah kenapa membaca itu semua aku langsung teringat sinema televisi  indosiar, diiringi dengan backsound lagu religi.

Namun aku menarik kesimpulan, semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Bahkan saat ini orang tua Budi sudah bisa menerima hubungan Budi. Lalu kenapa Budi nggak pulang (?)
Mungkin kali ini aku harus mencari contoh lain yang lebih baik, yaah meskipun dari sinetron. Kadang memang kita menganggap sinetron sangat lebay, yang mana Ibu memiliki ikatan batin sangat kuat dengan anaknya meskipun sebelumnya terpisah lama dan awalnya tidak saling mengenali(cerita anak yang terpisah, entah itu diculik, hilang, dsb.). Itu cerita yang biasa kita tonton di televisi. Tapi seorang penulis skenario juga bebas menulis apa yang ada di imajinasinya kan? Meskipun kadang aku jadi bertanya-tanya, apakah aku memiliki ikatan batin yang kuat dengan ibuku? *korban sinetron.
Tapi aku merasa justru kisah dalam sinetron itu yang lebih sesuai dengan realita hidup kita, bahwa seorang ibu memiliki rasa yang peka dan mengasihi anaknya.

Bahkan sama halnya dengan seorang Ibu yang dalam cerita berperan sebagai tokoh antagonis, sejahat-jahatnya dia, dia sangat membela anaknya dan mengusahakan yang terbaik untuk sang anak. Sebut saja cerita Bawang Merah dan ibunya. Atau Ibu tiri cinderella dengan saudara tiri cinderella. Terlihat kan bahwa seorang ibu sebisa mungkin membahagiakan anaknya apapun usahanya?
Ibu pasti selalu mengingat anaknya. Dalam setiap sujudnya pasti terselip rangkaian doa indah untuk sang anak. Aku jadi ingat beberapa hari yang lalu aku mengirim sms untuk Ibuku meminta doa. Ibu langsung membalas "Iya prim doaku selalu untukmu, hati2 n jaga kesehatan, makan teratur"

Mungkin orang yang mengirim komentar di status yang aku share dari status Tere Liye itu punya kenangan buruk. Tetapi seburuk apapun kenangannya, aku yakin tak ada ibu yang buruk.
Ibu pasti punya alasan, dan baginya alasan itu juga demi kebaikan kita. Jadi apa salahnya berhenti berpikiran negatif pada orang yang memberi kita kesempatan menghirup udara di bumi ini?

Kamis, 27 Februari 2014

SABAR ?!! (Û³ ˚Д˚)Û³

Aku mengenal kata empati sejak pelajaran PPKN diberikan di bangku kelas 1 SD.
Aku mengenal beragam sikap positif, juga sebaliknya yang negatif. Mulai dari sikap bahwa kepada yang lebih muda harus menyayangi dan kepada yang lebih tua harus menghormati, apa itu tenggang rasa, apa itu tolong-menolong, apa itu disiplin, dan masih banyak sikap positif yang lain. Aku ingat betul ketika berusaha menjawab semaksimal mungkin setiap pertanyaan dalam soal-soal ulangan mata pelajaran PPKN.
Aku tau, itu bukan hanya pertanyaan yang diujikan. Guru pengajar bermaksud menanamkan nilai-nilai moral yang nantinya akan kita terapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Kali ini aku ingin absen dan membuat pengecualian kepada tukang parkir liar. Tidak semua. Hanya pada Pak Tua yang nongkrongnya di depan toko alat tulis, di sebelah abang penjual gorengan. Di sekitar Dharmawangsa. Hanya pada Pak Tua itu.
Di wilayah situ memang banyak tukang parkir, termasuk tukang parkir yang biasanya memandu dan menjaga parkir mobil ketika Ayahku mengantar ke kos. Bahkan Ayahku bisa akrab dengan dia. Menurutku, meskipun dia bukan tukang parkir yang resmi, tapi dia bisa menjalankan perannya sebagai tukang parkir.
Sedangkan Pak Tua itu? Ya Allah, Pak Tua yang umurnya aku tebak sekitar 50an itu, dia bikin emosi setengah mati!
Oke, mari flashback ke cerita di pagi hari tadi. Aku sama mbak fia baru saja ke bank mandiri di pintu samping Unair. Pas pulang, kebetulan searah dengan jalan pulang ke kos ada abang penjual gorengan di pinggir jalan. Kita berhenti dan beli. Mbak fia bilang dia nggak usah turun dari sepeda. Toh, kita cuma beli gorengan sebentar, tepat di depan kita pula. Akhirnya aku yang turun dan beli. Aku yakin, pasti banyak orang yang berpikir: "daripada bayar parkir, sementara yang dibeli nggak seberapa, mending nunggu di sepeda". Kita juga demikian. Tapi Pak Tua itu menghampiri sepeda motor mbak fia yang ada di sebelahku, saat aku sibuk membeli. Minta dibayar. Hah? Ini aku belinya juga masih belum selesai. Seenaknya aja minta dibayar. Aku baru kali ini menjumpai tukang parkir liar yang kurang tau diri, biasanya mereka akan sungkan meminta bayaran ketika si pemilik sepeda nggak turun dari sepeda. Karena tugas mereka kan cuma nungguin sepeda, nah, kalau si pemilik sepeda sudah  nungguin sendiri sepedanya kok masih minta dibayar? Kerjaan mereka cuma nunggu dibayar ketika pemilik sepeda kembali ke sepeda, mereka datang, setelah dibayar mereka langsung pergi begitu saja tanpa memberi panduan dan bantuan. Dan Pak Tua ini justru lebih parah lagi, pemilik sepeda belum selesai urusannya, dia sudah minta dibayar.
Toh, selama ini kalau ada kehilangan benda atau apa, itu bukan menjadi tanggung jawab tukang parkir. Bahkan parkir legal dengan karcis juga ada tulisan kehilangan bukan menjadi tanggung jawab mereka. Kalau tukang parkir liar? Mereka kan asal mematok tempat! Menganggap itu wilayah mereka, daerah kekuasaan mereka.
Lanjut ke cerita, setelah Pak Tua itu menagih bayaran yang bukan haknya, mbak fia sempat berkelit, lah wong cuma beli gorengan sebentar, tepat di depan gerobak gorengan pula. Pak Tua masih ngotot. Mbak fia langsung bilang ke aku kalau dia balik ke kos duluan. Aku langsung paham. Itu kode, karena mbak fia cuma belok ke gang sebelah dan nungguin aku di situ. Tapi bagaimana  dengan Pak Tua itu?
Dia malah ngikutin dan balik ke aku yang saat itu sudah selesai membeli. Dan aku kaget ketika ditodong begitu saja "sewu mbak", pdhl jelas-jelas aku lagi jalan kok bayar parkir (?)
lah kan mbak fia udah nggak parkir di depan penjual gorengan. Dia parkir masuk di gang sebelah, di depan rumah orang dan bukan jalan besar. Masih ditagih juga! Aku langsung kesal, melupakan begitu saja pelajaran PPKN di detik itu dan menjawab dengan seketus mungkin "nggak pak!" Dan ngeloyor begitu saja ke mbak fia yang masih di sepeda.
Aku kira sudah berakhir di situ. Aku naik ke sepeda. Aku kaget ketika Pak Tua itu sudah di sebelah kami. "Mbayar mbak". Aku dan mbak fia masih bersikeras nggak mau bayar. Toh, di depan kami juga banyak bapak-bapak yang duduk di sepeda menunggu anaknya pulang sekolah, karena di seberang rumah itu ada SD. Apa Pak Tua ini juga akan menagih bapak-bapak di situ? Jelas nggak mungkin! Melihat kami yang masih menolak membayar, Pak Tua itu terlihat memasang raut marah. Tapi aku nggak takut sedikit pun. Dia terlihat mengepalkan tangan, tapi urung karena di situ banyak orang. Kalau dia berani main tangan, aku bersumpah akan langsung menendang Pak Tua itu. Nggak peduli berapapun umurnya. Sikapnya menunjukkan bahwa ia nggak patut di hormati. Apa begini caranya mencari rejeki? Apa bedanya dengan rampok yang menodong minta uang? Atau apa bedanya dengan pengemis yang datang menghampiri? Apa itu juga disebut profesi? Apa bedanya dengan pemerasan?
Rangkaian peristiwa itu berjalan cepat, kurang lebih cuma 5 menit. Tapi terlalu membuat kesal. Dan aku berjanji nggak akan pernah memberikan uang parkir sedikitpun pada Pak Tua itu, mending aku jalan kaki kalau mau ke situ. Bukan masalah nilai mata uang, tapi masalah sikap.

Aku jadi ingat, dulu guru lesku pernah bercerita. Beliau nggak pernah sedikitpun memberi uang pada tukang parkir liar. Dia takut dosa, karena itu bukan hak dari si tukang parkir. Dan kelak, kita juga akan dimintai pertanggungjawaban. Kemana perginya uang parkir liar jelas hanya di kantong si tukang parkir. Aku selalu berpikir, nggak masalah kalau toh uangnya masuk ke kantong si tukang parkir (kalau urusan kita lebih penting dari sekedar beli gorengan 2000rupiah),  anggep aja beramal. Untuk urusan sepele pun nggak masalah, jika tukang parkir liar itu cukup bertanggung jawab nggak sekedar menunggu dibayar, misalnya memandu membantu menyebrang, aku akan dengan senang hati membayar, karena dia sudah membantu dan itu haknya untuk mendapat bayaran.
Tapi, pengecualian untuk tukang parkir yang bersikap seperti Pak Tua itu. Tubuhnya masih kuat, perawakannya tinggi tegap. Mungkin hanya berjarak dua atau tiga tahun lebih tua dari ayahku. Tapi rasa empati pada Pak Tua itu langsung lenyap, sama sekali nggak berbekas. Teori-teori PPKN yang aku pelajari sejak di bangku SD juga langsung terlupakan begitu saja.

Mengingat tukang parkir liar, aku jadi berpikir, apakah di luar negeri sana juga ada tukang parkir?