Minggu, 08 Januari 2017

Trouble

Ada satu hal yang mengganggu pikiranku. Sangat mengganggu. 
Rasanya ingin ku usir begitu saja. Tapi susah. Susahnya sudah mengalahkan rumus matematika.

Pikiranku terlalu lancang membuat suatu penilaian. Bukankah tidak seharusnya aku sembarangan menilai? Berani-beraninya sok menilai. Siapalah aku, cuma makhluk-Nya yang sama.

Tapi, pernah tidak kamu begitu membenci apa yang kamu pikirkan?
Aku sungguh mengalaminya.
Semakin dibenci justru semakin menghantui. Muncul terus-terusan tanpa ampun. Angker sekali.

Apalagi kalau yang dipikirkan sudah bersekongkol dengan hati. 
Masalahnya jauh lebih rumit. Bahkan aku berdebar. Debarannya lebih kuat dari ketika aku berdiri di lantai Mall tertinggi lalu menatap ke lantai terbawah. 

Berdoa memang sedikit menenangkan. Tapi tidak mampu mengusir pikiran itu jauh-jauh. 
Apa doa-ku yang kurang khusyuk?

Nb.:
Bukan. Tulisan ini bukan soal kegalauan cinta. Aku tidak seromantis itu. 

Rabu, 04 Januari 2017

2017

Bukan di penghujung tahun lagi. Tahun dengan kalender baru benar-benar sudah dipijak. Sudah Januari lagi. Desember masih lama.
Padahal Desember baru kemarin.
Ah, bahkan Desember baru berlalu tiga puluh enam menit yang lalu ketika aku mengetik tulisan ini.
Juga baru beberapa menit berlalu sejak percikan kembang api mewarnai langit hitam. 
Benar-benar masih baru. Ya, namanya juga tahun baru. 

Biasanya, yang menggandeng kata 'baru' bisa bikin senang. Baju baru, sepatu baru, hp baru... 
Tahun baru?
Eh, kok beda. 
Definisi baru yang berbeda. Atau cuma perasaanku saja? Sementara di luar sana banyak yang sibuk berpesta. Sudah mengatur rencana matang untuk menghabiskan malam yang setahun sekali ini.
Entahlah, bagaimana mendeskripsikan perasaan semacam ini...
Rasanya sama kayak ditinggal bulan Ramadhan. Ada senangnya, tapi banyakan sedihnya. 
Seperti ada yang terlewat.
Seperti ada waktu yang disia-siakan.
Seperti ada kesempatan yang diabaikan.

Apapun itu, yang berlalu, percuma jika menjadi sesal.
Helaan nafas berat saat melepas kalender tahun 2016, telah berganti dengan doa dan harapan ketika kalender tahun 2017 terpasang di dinding.

Ada begitu banyak "semoga" yang ku "aamiin"-kan.

Sampai jumpa lagi Desember! Salah satu doaku, semoga kita berjumpa lagi.

Selasa, 13 Desember 2016

Lampu Lalu Lintas

Source: www.google.com

Ada lampu merah baru di GKB (ada tiga warna tentunya, tapi biar gampang dan udah kebiasaan jadi aku sebut lampu merah saja). Lampu merah baru itu nggak jauh dari rumah. Tapi bikin rumah jadi kerasa jauh. 

Padahal dulu selalu membatin kalau lewat perempatan itu, "Kok nggak dikasih lampu merah sih di sini", gara-gara pengguna jalan saling berebut untuk jalan duluan. Kalau ada yang mengalah sih Alhamdulillah. Nah, tapi kadang ada yang pasang muka galak kalo jalannya diserobot duluan. Malah aku pernah melihat ada yang sampai beradu mulut penuh emosi.

Anehnya, udah ada dua lokasi perempatan di GKB yang dipasang lampu merah. Dan dua-duanya, lampu hijau nyala barengan di setiap arah yang berlawanan. Jadi susah kalo salah satunya mau belok kanan, bakal berpapasan. Tapi setidaknya lampu merah cukup membantu karena bukan dari empat penjuru yang berpapasan.

Ya, yang penting sekarang lampu merah udah siaga di sana. Setiap pengemudi kendaraan mau nggak mau dipaksa mengalah. Sayangnya, seperti lampu merah di lokasi-lokasi lainnya, terkadang ada pengemudi yang menganggap lampu itu hanya hiasan mata. Nggak peduli. Dianggap nggak ada. Melaju tanpa menunggu warna lampu jadi hijau, mengesampingkan dampak terburuk yang bisa saja terjadi.

Lampu kuning? Ah, malah kebanyakan orang menganggap warna itu nggak ada. Seperti mitos yang cuma jadi kepercayaan. Dan yang percaya cuma anak-anak TK, bahwa lampu kuning artinya "siap-siap" sebelum warna lampu jadi hijau. Sayangnya nggak ada anak TK yang boleh nyetir kendaraan bermotor. Jadi pemahaman itu udah terbang terbawa angin ketika mereka mulai bisa mengendarai kendaraan bermotor. Dimenangkan oleh kebiasaan yang secara nggak langsung mengajari bahwa ketika lampu merah masih tersisa lebih dari lima detik udah boleh main klakson, bahkan banyak yang sudah langsung melajukan kendaraannya.
Dan barisan terdepan yang bisa jadi niatnya mau menunggu lampu jadi hijau, reflek langsung melaju biar nggak dimaki orang-orang di belakangnya yang udah mengklakson. 
Biarlah. Aku nggak mau jalan kalau lampu belum hijau.

Ada lampu merah baru di GKB juga bikin macet. Kendaraan bisa berbaris sangat panjang di jam-jam padat. Ini baru hari biasa, gimana kalau bulan puasa?

Ah, biarlah.
Biarlah. Rumahku jadi kerasa makin jauh yang penting perjalananku aman.
Biarlah. Aku akan berangkat lebih awal kalau ada urusan biar nggak telat.
Biarlah. Macetku di sini nggak sebanding dengan macetnya kota metropolitan di sana.
Ya, biarlah. Biar aku di rumah saja kalau males kena macet.

Kamis, 08 Desember 2016

Semangat

Seharum aroma vanila di gelas kaca yang menggugah pagi itu.
Sebising pemandangan di jalanan kota pukul enam tiga puluh.
Seterik sang surya menyambut dering bel pulang sekolah.
Bisakah ku lukiskan semangatku bagai salah satunya? 
- dari Prima, kepada diskon akhir tahun -

Jumat, 02 Desember 2016

Ketika hujan turun..

Source: www.google.com

Malam itu aku dan mbak fia sama-sama menambah gizi. Bukan istilah perbaikan gizi ala anak kos, karena gizi kami sudah terlalu baik sampai jadi frustasi. Gagal diet justru bagai motivasi untuk tetap makan, makan dan makan. 
Maka jadilah kami boncengan di sekitar jalanan GKB (Gresik Kota Baru) malam-malam lewat pukul tujuh, waktu yang harusnya dimusuhi oleh gadis-gadis untuk makan malam. Niatku cuma ngemil aja sebenarnya (tapi camilan versiku mungkin terlalu berat, bukan menu cantik semacam salad-saladan).
Sampai akhirnya kami menjatuhkan pilihan di mie aceh Kedai Ajay, yang ternyata menunya makanan berat semua. Padahal dulu ada menu camilan lho, semacam roti canai dan martabak. Ada apa dg buku menu ini? 😢

Skip.
Makan selesai. Kami memutuskan untuk pulang ke rumah sebelum makin larut.
Tiba-tiba di tengah perjalanan hujan turun. Terjadilah dialog ala sinetron di antara kami.
Mbak Fia : "Diks, kakak kedinginan"
Aku : "Nggak papa, Kak. I love the rain. Adik suka hujan." (Padahal gigi atas-bawah udah saling berbenturan menahan dingin)
Mbak Fia : "Endel, I love the rain. Nanti Kakak atit. Besok kakak kerja."
Aku : "Enggak kak, enak dingin-dingin nanti tidurnya jadi nyenyak."
Mbak Fia : "Duwingin diks.. hhrrr" (menahan dingin)

Sampai di rumah..
Bapak : "Darimana rek? Wah wah.."
Mbak Fia : "Cari makan, pak. Prima lho pak kesenengen hujan-hujan, uwadem padahal." (Kembali ke dialog normal)

Padahal aku sudah masuk ke dalam rumah, buru-buru mengganti pakaian basahku.

Begitulah,
Kadang menurut kita waktunya tepat, tapi bagi orang lain itu malah mengganggu.

Kadang apa yang kita mau, belum tentu jadi harapan orang lain juga.

Kadang apa yang kita sukai, belum tentu orang lain juga suka. 
Sama kayak makanan, apakah hujan juga urusan selera?

Kamis, 10 November 2016

Bisik - Bisik Tetangga

Hmm...
Namanya hidup bertetangga.
Kalo A sama B kumpul, ngomongin si C.
Kalo A sama C kumpul, ngomongin si B.
Kalo B sama C kumpul, ngomongin si A.
Giliran ABC kumpul, cari target empuk lainnya dong, si D.
Gitu aja terus dari rumah nomer 1 sampe 101.
Tetangga masa gitu?

Dari tetangga yang paling anteng sampe  yang paling lincah. Ada aja celahnya. Kalo kelihatan nggak ada, ya dicari-cari. Cari-cari subjek dan objek buat diomongin (mulai dari si A sendiri, rumahnya si A, belanjaan si A, mobilnya si A, motornya si A, suaminya si A, anak-anaknya si A, temen anaknya si A, pacar anaknya si A, sampe temen pacarnya si A). Apa aja deh, yang penting gosip lancar.
Nggak peduli waktunya. Dari pagi sampe petang, kapanpun sah-sah aja kalo sempet. Kalo nggak sempet ya disempet-sempetin.

Repot ya punya tetangga. Kalo nggak punya tetangga lebih repot lagi.

Yang penting anteng aja. Kalo dicari celahnya yaudah cari celahnya balik. Eh?
Maksudku, nggak ada manusia tanpa celah. Nggak perlu dicari jg  udah tau kalo dia punya celah 😉

Jadi, kalo nggak ada keperluan yang mendesak mendingan nggak usah keluar rumah, daripada bergosip.
Merugikan diri sendiri dan orang lain.

*Ngetik sambil buka ig lambe_turah 😗

Minggu, 06 November 2016

Kedok Hadiah "Gratis"

Source: google.com

Beberapa bulan lalu, aku sama Fani (adikku) yang lagi jalan-jalan ke salah satu mall di Surabaya, dihampiri oleh seorang cewek yang menyodorkan hadiah.
Tepatnya di depan sebuah counter yang agak sepi, ada mbak-mbak yang heboh sendiri mencegat kami untuk memberi sebuah kotak (seukuran kotak pensil) yang dibungkus rapi dengan kertas kado dan dilapisi selotip. Aku udah heran dengan cara membungkus kemasannya yang super rapat itu, gimana cara bukanya kalo seluruh permukaannya dilapisi selotip? 
Aku yang curiga udah berjalan nggak peduli, sedangkan Fani dengan polosnya langsung menerima itu. 
MBAK : "Permisi Mbak Cantik, kami baru buka toko elektronik dan sedang bagi-bagi hadiah untuk pengunjung yang beruntung."
AKU : "Oh iya"
MBAK : "Jadi ini ada hadiah dari kami, tapi sebelumnya Mbak Cantik belum pernah dapat kan?"
AKU : "Belum."
MBAK : "Yaudah kita isi data dulu ya Mbak, biar jadi tanda kalau udah dapet. Ikut saya dulu ya."

Entah kenapa aku nggak kuasa menolak. Aku terpaksa mengikuti langkah si Mbak gara-gara Fani terlanjur menerima hadiah itu. Selama berjalan Mbak ini bertanya basa-basi yang membuatku risih dengan panggilan "Mbak Cantik" yang diulang-ulang. Semakin terasa basi di telingaku saat itu. Dan terdengar seperti rayuan gombal.

Kami dibawa ke area mall yang menjual barang-barang elektronik dan berhenti di salah satu counter kecil. Kami pun diajak masuk dan dipersilahkan duduk. Di counter itu ada dua orang wanita dan dua orang pria. Dua orang wanita itu seumuran ibu-ibu memakai pakaian sewajarnya, yang tiba-tiba menghentikan obrolan serunya ketika kami datang.
Sedangkan seorang pria mengawasi kedatangan kami dengan wajah datar, dia memakai baju super rapi dengan kemeja putih, ikat pinggang, celana kain hitam, berkacamata (pokoknya meyakinkan sekali). Seorang pria lain memakai kaos hijau sama seperti pakaian yang dikenakan Mbak yang mencegat kami tadi.
Mereka menatap kedatangan kami.
Mbak yang tadi langsung mempersilahkan kami duduk. 

Aku rasanya pengen segera meninggalkan counter itu. Malas berbasa-basi, tapi demi etika selayaknya orang yang baru diberi bingkisan rasanya tidak sopan kalau pergi begitu saja.
Mas yang berseragam sama dengan Mbak tadi ikut bergabung dengan kami dan berkenalan.
Kami pun berkenalan, menyebutkan nama masing-masing. Walaupun aku nggak peduli siapa nama Mas dan Mbak ini, terlebih aku juga susah mengingat nama.
MAS : "Asalnya darimana Mbak?"
AKU : "Gresik"
MAS : "Wah sama."
AKU : "Oh ya?"
MAS : "Iya, saya Driyorejo. Mbak dimana?"
AKU : "GKB."
MAS : "Oh, Gresik Kota Baru."
Feelingku mengatakan kalau si Mas nggak benar-benar dari Gresik. Kenapa? Karena menurutku dia cuma ingin membangun kedekatan dengan berasal dari kota yang sama (Aku pernah mengalami hal serupa sebelumnya dengan kasus yang berbeda.)

MBAK : "Mbak Cantik, boleh pinjam KTP nya?"
AKU : (mencari KTP di dompet)
MBAK : "Saya catat dulu ya."
Sementara si Mbak sibuk mencatat, si Mas mulai berbasa-basi lagi.
MAS : "Habis ngecat ya tadi Mbak? Itu kukunya ada warnanya."
AKU : "Hehe enggak" (ketawa garing)
Si Mbak ikut ketawa.
MAS : "Di sini kuliah atau sekolah?"
AKU : "Kuliah."
MAS : "Dimana?"
AKU : "Unair."
MAS : "Ambil jurusan apa?"
AKU : "Hukum."
MAS : "Waah nggak berani saya kalau hukum. Jadi jaksa tinggal ketok-ketok palu."
Si Mbak tertawa mendengar ucapan Mas itu.
AKU : ????? (Jaksa ketok-ketok palu?)
MAS : "Semester berapa Mbak?"
AKU : "8."
MAS : Wah udah mau lulus brarti ya.
MBAK : Lho, iya ta? Nggak kelihatan bgt. Masak seh mbak? Tadi saya kirain masih SMA malah.
Feelingku mengatakan ini adalah trik. Paling si Mbak berusaha menyenangkan hatiku, untuk membangun mood-ku agar enak kalau diajak ngobrol lebih dalam nanti.
Nggak tau kenapa selama di sana aku malah sibuk berdialog sendiri dengan otakku. Kesannya negative thinking banget. Eh, waspada ding! Jadi penjelasan-penjelasan si Mbak dan Mas nggak begitu ku pedulikan.

Setelah si Mbak mengisi data-data. Dia kembali nimbrung.
MBAK : "Oke Mbak Puspa sama Mbak Fani, sebelumnya saya mau jelaskan dulu ya." (sambil mengambil sebuah brosur)
AKU : (Puspa? Aku? Yaudah sesenengmu aja mbak.)
MBAK : "Jadi, toko kami baru saja dibuka Mbak, namanya Toko elektronik blablabla lokasinya ada di blablabla..." (dia menunjukkan logo dan alamat toko yang ada di bagian atas brosur, yang aku yakini sebagai alamat fiktif belaka) "kami menjual barang-barang elektronik dan rencananya kami akan mengembangkan toko kami, ya semacam toko elektronik Hartono, tau kan, Mbak?"
AKU : "Iya."
MBAK : "Nanti kalau ada waktu silahkan main-main ke toko kami ya, Mbak, hehehe. Jadi dalam rangka pembukaan toko kami, kami bagi-bagi hadiah untuk pengunjung yang beruntung." 
Mbak baju ijo panjang lebar memberi penjelasan tentang "aturan mainnya".

Intinya kita disuruh milih, mau souvenir kecil yang dikasih tadi atau menggosok kupon berhadiah. Kalo pilih menggosok kupon berhadiah dan nomernya cocok dengan deretan nomer-nomer "beruntung" yang ada di selebaran bergambar TV, Iphone 5s, Iphone 6, kulkas, dll., maka kita harus mengembalikan souvenir kecil tadi. Eh kok kita disuruh milih, tapi Mbak dan Masnya mengarahkan ke gosok kupon. Maksa!

Yaudah, kita gosok kupon yang udah jelas nomernya bakal cocok dengan yang ada di selebaran. Mbak dan Mas pake acara nyuruh baca basmallah segala.  Lalu pura-pura sibuk nggak ngelihat. 
MBAK : "Gimana Mbak Cantik? Nomernya ada yang cocok?"
AKU : (mbatin, nggak sampe sedetik juga udah nemu salah satu nomer yang cocok dengan kuponku nomer 8999xxx) "iya, ada."
MBAK : "Hah? Beneran Mbak? Yang mana?"
AKU : "iya." (Menunjuk salah satu nomer diantara deretan nomer-nomer lain)
MBAK & MAS : (menyalami dengan heboh) "Waaah selamaaat yaaa, Mbak!"
MAS : "Mimpi apa Mbak semalem? Beruntung sekali hari ini dapat hadiah."
AKU : "Nggak mimpi."
MAS : "wah, berarti memang hoki ya Mbak."
*Justru aku merasa lagi sial lho, Mas!*

Teruuus, si Mbak melanjutkan dengan menjelaskan aturan main selanjutnya. Intinya, kita bakal dapat hadiah jika menggosok kupon lagi untuk menentukan hadiah yang akan dibawa pulang. Semacam hadiah hiburan yang "katanya" udah pasti dapet, ada sekitar 8 jenis hadiah hiburan. Berupa kamera digital, setrika, dispenser, dll.
Yaudah gosok kupon lagi, disuruh baca basmallah lagi + ditanyai pengen hadiah hiburan yang mana diantara semua pilihan hadiah yang ada. 
AKU : "Nggak tau."
MBAK : "Lho, kok nggak tau Mbak? Seneng dong dapet hadiah? Seneng nggak, Mbak?"
AKU : (senyum palsu)
MAS : "Kamera digital nggak mau, Mbak? Suka selfie kan pastinya?"
AKU : "Udah ada, Mas. Di rumah."
MAS : "Magic com pasti mau dong? Anak kos biasanya masak nasi sendiri biar hemat."
AKU : "Udah bawa dari rumah kok, Mas."
Aku pun menggosok kupon "berhadiah" tersebut biar cepet kelar dari tawar menawar yang nggak perlu ini. Setelah mencocokan nomer dengan hadiah hiburan, dapetnya setrika.

Lanjut ke aturan main yang selanjutnya. Kalo kita ambil hadiah hiburan itu, berarti kesempatan untuk dapet hadiah yang lebih besar akan gugur. Tapi, Mas dan Mbak yang ngeyelan ini, super maksa biar lanjut ke tahap selanjutnya. Yaudah, udah tahap terakhir kok.

Mbak baju ijo sibuk menjelaskan tentang gambar-gambar hadiah yang ada di selebaran itu, berikut cara mendapatkannya. Jadi, hadiahnya gratis. Tapi kita hanya perlu membayar biaya produksi. 
Di lembaran itu tergambar hadiah gede-gede, ada 2 set home teather yang beda jenisnya, televisi, iphone 5s, iphone 6, kulkas, dll., yang di bawahnya tertulis nominal harga produk tersebut. Misal, harganya 5juta, kita hanya perlu membayar biaya produksi 2juta. Tapi bayarnya harus saat itu juga agar hadiahnya bisa dilepas. Padahal serah terima barang nggak terjadi di hari itu, lah wong barangnya aja nggak ada sekarang.

MBAK : "Jadi di tangan Mas ini ada amplop-amplop yang berisi kupon berhadiah, Mbak. Kalo Mbak ambil salah satu amplopnya dan kuponnya cocok dengan salah satu hadiah di sini, Mbak Puspa udah nggak bisa mundur lagi. Harus diambil hadiahnya dengan syarat membayar biaya produksinya saja."
MAS : (senyum-senyum memamerkan amplop-amplop di tangannya)

MBAK : "Seandainya dapet nih, Mbak, diantara hadiah-hadiah ini Mbak Puspa pengen yang mana?"
AKU : (diam. Kok malah disuruh mengkhayal sih?)
MBAK : "Iphone 6 nggak mau, Mbak?"
AKU : "Ya, mau sih." (Siapa yang nolak kaloooo gratis?)
MBAK : "Jadi nanti kalo misalnya, Mbak Puspa kuponnya cocok sama Iphone 6 ini bakal diambil ya, Mbak?"
AKU : "Enggak."
MBAK : "Lho, kenapa Mbak?"
AKU : "Biaya produksinya mahal."
MBAK : "Atau ini Iphone 5s mau, Mbak? Lebih murah, dapet 2 lagi. Dengan bayar biaya produksi segini, Mbak Puspa bisa dapet 2 Iphone5s lho Mbak."
AKU : "Enggak juga, Mbak."
MAS: "Kenapa, Mbak?"
AKU : "Ya, saya kan anak kos, Mas, masih kuliah. Nggak mungkin kan ada duit sebanyak itu. Harus koordinasi dulu sama orang tua."
Mas dan Mbak mulai meracuni dengan pilihan hadiah lainnya.
MAS : "Gini deh, Mbak, kalo kuponnya cocok dengan televisi ini gimana? Biaya produksinya kan cuma 400ribu aja."
AKU : "Udah bawa TV kok, Mas, di kosan."
MAS : "Tapi kan TV nya beda, Mbak. Ini TV blablabla lho, Mbak. Yakin nih nggak mau diambil?"
AKU : "Enggak, Mas."
MAS : "Kenapa, Mbak? Coba pikir-pikir dulu deh, Mbak. Sayang banget soalnya udah dapat kesempatan ini."
MBAK : "Iya, sayang banget kalo nggak diambil Mbak. Saya aja mau kalo dapet, cuma bayar biaya produksi aja."
AKU : "Nggak deh, Mbak."
MBAK : "Kenapa, Mbak?"
AKU : "Ya balik lagi kayak tadi, saya kan anak kos. Harus ijin orang tua di rumah dulu, Mbak."
MBAK : "Meskipun cuma 400ribu, Mbak?"
AKU : "Tetep ijin orang tua, Mbak."
MBAK : "Jadi nggak akan diambil nih hadiahnya, Mbak?"
AKU : "Enggak, Mbak."
Si Mbak langsung membanting punggungnya di sandaran kursi, terdengar jelas nada bicaranya mulai kesal, "Yaah, sayang banget, Mbak." Mungkin dia lelah, udah ngoceh panjang lebar dari tadi nggak membuahkan hasil.
MAS : "Yaudah, nggak papa, Mbak. Kita minta tanda tangannya ya, sebagai bukti kalau Mbak sudah pernah dapat kesempatan ini."
Aku langsung menandatangani buku yang disodorkan yang berisi data pribadiku dari KTP tadi.
MAS : "Makasih ya, Mbak." (Sambil menyalami, disusul oleh si Mbak yang ikutan menyalami dan berterima kasih) "Setelah ini mau kemana, Mbak? Jalan-jalan atau mau nonton?"
AKU : "Mau makan, Mas, laper, hehehe." (Berdiri dan bersiap pergi dengan kilat).
MAS : "Oh yaudah, hati-hati ya, Mbak."

Huaaah, akhirnya bisa menghirup udara kebebasan ~

Hal seperti ini udah sering banget terjadi. Beberapa pekan sebelumnya, kakak dan adikku juga mengalami hal yang sama di Gresik. Lagi-lagi karena Fani yang polos menerima brosurnya 😅
Untungnya kakakku berhasil cari alasan untuk kabur ditengah penjelasan panjang lebar tentang aturan main dengan alasan buru-buru udah malem keburu "M*tahari" tutup. (Sengaja sensor, biar nggak ketahuan).

Dan setelah kejadian hadiah palsu yang ku alami ini, aku langsung menelusuri Google, mencari tahu apakah ada yang mengalami hal serupa. Ternyata buanyaak. 😧 hanya nama toko elektroniknya aja yang beda, konsepnya sih sebagian besar sama aja. Dan ada yang mengikuti "permainan" ini sampe tahap akhir, dan ternyata barang yang diterima berbeda jauh kualitasnya dengan barang yang ada di gambar.

Beberapa hari kemudian, aku yang lagi jalan ke "M*tahari" Gresik, deket pintu masuk disodori brosur yang serupa dengan itu. 
Aku : "Udah pernah, Mas" (tanpa menerima brosur yang diberikan)
Mas : "Pernah? Dapet apa, Mbak?" (Mundur perlahan lalu pergi sebelum mendengar jawabanku). 

Mirisnya, kenapa mereka bisa masuk ke tempat-tempat seperti itu? Menurutku, sebagai pengunjung, aku jelas merasa terganggu sekali. Meskipun aku nggak mengalami kerugian dalam hal finansial karena menolak untuk membayar "hadiah" yang dijanjikan, tapi aku merasa rugi waktu karena dipaksa mengikuti alur permainan yang berbelit-belit ini. 😧

Rabu, 22 April 2015

"linglung day"

Hari ini aku linglung sekali. Padahal hari ini uts pidkor. Semua yang ku pelajari mendadak blank. Seolah kabur dari otak begitu saja. Caraku menjawab jg ngelantur nggak karuan. Sama sekali nggak sistematis. Rasanya jawabanku malah jadi cerpen nggak jelas. Entahlah hari ini kok kayaknya aku ke kampus cm bawa badanku saja, trs pikirannya ketinggalan di kos. Semoga hasilnya tidak ngelantur terlalu jauh dari harapan.
Abis ngumpulin lembar jawaban, nggak tau terlalu kenceng waktu nutup atau gimana, ujung resleting tas ransel (yg dipake buat narik" resleting) jatuh ke lantai. Untungnya resleting tasnya udah nutup, jadi aku nggak perlu pulang ke kos dengan nenteng tas dalam keadaan kebuka.
Ternyata nggak berakhir sampai di situ, pulang ngerjain uts yang masih dalam keadaan ruwet mikirin jawaban uts yg jadi ngelantur aku beli makanan buat di kos.
Aku beli pentol gila, maksudku beli "paket was-was", tapi ngomongnya beli "paket gila aja". Akhirnya dilayani deh yg paket gila aja.
Tiba-tiba aku sadar kalo resletingku gabisa dibuka gara-gara kaitannya lepas. Sedangkan dompetku ada di dalem tas. Gimana bayarnya coba? Pikiranku lgsg makin kacau, kalo resletingnya dijebol brarti konsekuensinya aku pulang sambil menenteng tas ransel berat ini dalam keadaan terbuka, nggak mungkin dicangklong di pundak. Kalo nggak dijebol, aku nggak bisa bayar. Yaudah dijebol aja :'(
Abis itu, aku beli ayam goreng di sebelah pentol gila. Maksudku beli "ayam dada", aku ngomongnya jadi "ayam paha".
Nyadarnya selalu terakhir-terakhir pas udah dilayani sama yg jual.
Sebelum semua makin parah, aku buru-buru balik ke kos. Terlebih kerepotan banget bawa tas resleting jebol, ayam, dan pentol dengan saus yang tumpah-tumpah gara-gara miring. Padahal tadinya aku jg berencana beli jus dan jajanan ringan lain saking sumpeknya, tp terpaksa kubatalkan daripada malah makin salah, niatnya beli jus jeruk gara-gara liat wortel jadi bilang beli jus wortel. -_-

Rabu, 11 Juni 2014

Ibu



Aku jarang buka facebook. Tapi beberapa hari yang lalu aku share status dari FP Tere Liye, yang isinya:
" doa ibu tidak ternilai harganya... boleh jadi doa itu telah membuka kunci2 kesempatan. menjauhkan bala dan marabahaya, menyingkirkan hambatan, atau mengangkat beban di pundak kita.doa seorang ibu tdk ternilai harganya..."

Tak lama kemudian, ada komentar pada status tere liye yang baru aku share, komentar dari orang yang nggak aku kenal sama sekali. Seorang yang murni baru aku tau dari dunia maya, dan baru aku tau detik itu, mungkin ini kategori teman pas aku baru-baru bikin facebook dan aku mengakui keteledoranku meng-konfirm secara asal-asalan. Dulu.
Mungkin itu nggak penting, sejak kapan dia menjadi teman facebookku. Yang terpenting adalah komentarnya. Begini:
Ibu yang bagaimana??? 
Dan ibu yang rela meninggalkan anaknya demi 
keegoisanya ,itu ibu yang gimana????

Aku pengen hapus komentar itu pada awalnya, dan pada akhirnya aku mengurungkan niat itu, dia punya hak untuk berpendapat. Tapi aku merasa tanda tanya dalam kalimatnya bukan menunjukkan pertanyaan, itu seperti sebuah penilaian. Lantas aku harus menjawab apa? Ibu yang bagaimana? Memangnya statusku dikhususkan untuk ibu-ibu tertentu? Memangnya ada berapa jenis ibu? 
Faktanya aku enggan membalas komentar itu, jika aku membuat pembelaan pasti dia menyikapinya tidak dengan kepala dingin. Dan ini malah akan memperkeruh keadaan. Terlebih aku nggak tau bagaimana kondisinya.

Aku jadi ingat, hari sebelum aku share status Tere Liye, aku membaca sebuah novel. Tapi ini sama sekali tak ada hubungannya dengan status yang aku share. Justru membaca komentar orang tersebut membuat aku teringat dengan novel yang baru selesai aku baca. Yang mana salah satu tokohnya sangat membenci Ibunya. Ibu itu menjual anaknya ke orang kaya lalu sang Ibu pergi ke Las Vegas untuk berfoya-foya. Tapi ini novel. Seorang penulis bebas mengikuti imajinasinya. Aku rasa tidak ada Ibu yang sekejam itu.

Beberapa hari sebelum aku membaca novel itu, aku menemui kasus yang serupa dimana seorang anak sangat marah pada ibunya. Juga di facebook. Kali ini, masih orang yang tak aku kenal di dunia nyata. Sebut saja namanya "Budi" (dari sekian banyak nama kenapa ini yang terlintas?). Statusnya muncul di beranda. Awalnya aku mengira kata-kata dalam statusnya mengutip salah satu dialog yang dikatakan Radit dalam film Radit&Jani. Tapi aku yang memang lagi kepo, membuka profil facebooknya dan menemukan wall dari seseorang yang menyuruh Budi pulang karena kakeknya meninggal. Budi mengomentari wall itu dan hanya menjawab singkat "Gak". Jawaban ini membuatku mengerutkan kening. Ternyata setelah aku baca intinya: Budi kecewa dengan keluarganya yang tak merestui Budi menikah dengan istrinya. Aku langsung penasaran dengan istrinya dan ternyata facebook itu full dengan foto Budi bersama seorang wanita dengan rambut lurus berwarna merah, setiap fotonya memakai baju tanpa lengan dengan rok atau celana pendek yang super minim, bahkan dia bersedia difoto dalam kondisi apapun dan di upload ke facebook. Aku langsung menebak kalau ini istri Budi. Oke, aku nggak boleh menilai seseorang dari penampilannya.
Tapi Si pengirim wall mengatakan bahwa seluruh keluarga besar sudah menerima dan tiap hari Ibu si Budi menangis merindukan Budi. Pengen tau kabar Budi dan meminta Budi untuk pulang. Budi masih keras kepala, dia bilang dia tidak butuh siapa-siapa, dia telah sepakat dengan istrinya bahwa dia akan menjalani hidup ini berdua karena dia sangat mencintai istrinya(?) Si pengirim wall sudah mengingatkan bahwa ridho Allah ada pada ridho orang tua. Tapi Budi tetap berlalu, tak peduli.
Entah kenapa membaca itu semua aku langsung teringat sinema televisi  indosiar, diiringi dengan backsound lagu religi.

Namun aku menarik kesimpulan, semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Bahkan saat ini orang tua Budi sudah bisa menerima hubungan Budi. Lalu kenapa Budi nggak pulang (?)
Mungkin kali ini aku harus mencari contoh lain yang lebih baik, yaah meskipun dari sinetron. Kadang memang kita menganggap sinetron sangat lebay, yang mana Ibu memiliki ikatan batin sangat kuat dengan anaknya meskipun sebelumnya terpisah lama dan awalnya tidak saling mengenali(cerita anak yang terpisah, entah itu diculik, hilang, dsb.). Itu cerita yang biasa kita tonton di televisi. Tapi seorang penulis skenario juga bebas menulis apa yang ada di imajinasinya kan? Meskipun kadang aku jadi bertanya-tanya, apakah aku memiliki ikatan batin yang kuat dengan ibuku? *korban sinetron.
Tapi aku merasa justru kisah dalam sinetron itu yang lebih sesuai dengan realita hidup kita, bahwa seorang ibu memiliki rasa yang peka dan mengasihi anaknya.

Bahkan sama halnya dengan seorang Ibu yang dalam cerita berperan sebagai tokoh antagonis, sejahat-jahatnya dia, dia sangat membela anaknya dan mengusahakan yang terbaik untuk sang anak. Sebut saja cerita Bawang Merah dan ibunya. Atau Ibu tiri cinderella dengan saudara tiri cinderella. Terlihat kan bahwa seorang ibu sebisa mungkin membahagiakan anaknya apapun usahanya?
Ibu pasti selalu mengingat anaknya. Dalam setiap sujudnya pasti terselip rangkaian doa indah untuk sang anak. Aku jadi ingat beberapa hari yang lalu aku mengirim sms untuk Ibuku meminta doa. Ibu langsung membalas "Iya prim doaku selalu untukmu, hati2 n jaga kesehatan, makan teratur"

Mungkin orang yang mengirim komentar di status yang aku share dari status Tere Liye itu punya kenangan buruk. Tetapi seburuk apapun kenangannya, aku yakin tak ada ibu yang buruk.
Ibu pasti punya alasan, dan baginya alasan itu juga demi kebaikan kita. Jadi apa salahnya berhenti berpikiran negatif pada orang yang memberi kita kesempatan menghirup udara di bumi ini?

Kamis, 27 Februari 2014

SABAR ?!! (Û³ ˚Д˚)Û³

Aku mengenal kata empati sejak pelajaran PPKN diberikan di bangku kelas 1 SD.
Aku mengenal beragam sikap positif, juga sebaliknya yang negatif. Mulai dari sikap bahwa kepada yang lebih muda harus menyayangi dan kepada yang lebih tua harus menghormati, apa itu tenggang rasa, apa itu tolong-menolong, apa itu disiplin, dan masih banyak sikap positif yang lain. Aku ingat betul ketika berusaha menjawab semaksimal mungkin setiap pertanyaan dalam soal-soal ulangan mata pelajaran PPKN.
Aku tau, itu bukan hanya pertanyaan yang diujikan. Guru pengajar bermaksud menanamkan nilai-nilai moral yang nantinya akan kita terapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Kali ini aku ingin absen dan membuat pengecualian kepada tukang parkir liar. Tidak semua. Hanya pada Pak Tua yang nongkrongnya di depan toko alat tulis, di sebelah abang penjual gorengan. Di sekitar Dharmawangsa. Hanya pada Pak Tua itu.
Di wilayah situ memang banyak tukang parkir, termasuk tukang parkir yang biasanya memandu dan menjaga parkir mobil ketika Ayahku mengantar ke kos. Bahkan Ayahku bisa akrab dengan dia. Menurutku, meskipun dia bukan tukang parkir yang resmi, tapi dia bisa menjalankan perannya sebagai tukang parkir.
Sedangkan Pak Tua itu? Ya Allah, Pak Tua yang umurnya aku tebak sekitar 50an itu, dia bikin emosi setengah mati!
Oke, mari flashback ke cerita di pagi hari tadi. Aku sama mbak fia baru saja ke bank mandiri di pintu samping Unair. Pas pulang, kebetulan searah dengan jalan pulang ke kos ada abang penjual gorengan di pinggir jalan. Kita berhenti dan beli. Mbak fia bilang dia nggak usah turun dari sepeda. Toh, kita cuma beli gorengan sebentar, tepat di depan kita pula. Akhirnya aku yang turun dan beli. Aku yakin, pasti banyak orang yang berpikir: "daripada bayar parkir, sementara yang dibeli nggak seberapa, mending nunggu di sepeda". Kita juga demikian. Tapi Pak Tua itu menghampiri sepeda motor mbak fia yang ada di sebelahku, saat aku sibuk membeli. Minta dibayar. Hah? Ini aku belinya juga masih belum selesai. Seenaknya aja minta dibayar. Aku baru kali ini menjumpai tukang parkir liar yang kurang tau diri, biasanya mereka akan sungkan meminta bayaran ketika si pemilik sepeda nggak turun dari sepeda. Karena tugas mereka kan cuma nungguin sepeda, nah, kalau si pemilik sepeda sudah  nungguin sendiri sepedanya kok masih minta dibayar? Kerjaan mereka cuma nunggu dibayar ketika pemilik sepeda kembali ke sepeda, mereka datang, setelah dibayar mereka langsung pergi begitu saja tanpa memberi panduan dan bantuan. Dan Pak Tua ini justru lebih parah lagi, pemilik sepeda belum selesai urusannya, dia sudah minta dibayar.
Toh, selama ini kalau ada kehilangan benda atau apa, itu bukan menjadi tanggung jawab tukang parkir. Bahkan parkir legal dengan karcis juga ada tulisan kehilangan bukan menjadi tanggung jawab mereka. Kalau tukang parkir liar? Mereka kan asal mematok tempat! Menganggap itu wilayah mereka, daerah kekuasaan mereka.
Lanjut ke cerita, setelah Pak Tua itu menagih bayaran yang bukan haknya, mbak fia sempat berkelit, lah wong cuma beli gorengan sebentar, tepat di depan gerobak gorengan pula. Pak Tua masih ngotot. Mbak fia langsung bilang ke aku kalau dia balik ke kos duluan. Aku langsung paham. Itu kode, karena mbak fia cuma belok ke gang sebelah dan nungguin aku di situ. Tapi bagaimana  dengan Pak Tua itu?
Dia malah ngikutin dan balik ke aku yang saat itu sudah selesai membeli. Dan aku kaget ketika ditodong begitu saja "sewu mbak", pdhl jelas-jelas aku lagi jalan kok bayar parkir (?)
lah kan mbak fia udah nggak parkir di depan penjual gorengan. Dia parkir masuk di gang sebelah, di depan rumah orang dan bukan jalan besar. Masih ditagih juga! Aku langsung kesal, melupakan begitu saja pelajaran PPKN di detik itu dan menjawab dengan seketus mungkin "nggak pak!" Dan ngeloyor begitu saja ke mbak fia yang masih di sepeda.
Aku kira sudah berakhir di situ. Aku naik ke sepeda. Aku kaget ketika Pak Tua itu sudah di sebelah kami. "Mbayar mbak". Aku dan mbak fia masih bersikeras nggak mau bayar. Toh, di depan kami juga banyak bapak-bapak yang duduk di sepeda menunggu anaknya pulang sekolah, karena di seberang rumah itu ada SD. Apa Pak Tua ini juga akan menagih bapak-bapak di situ? Jelas nggak mungkin! Melihat kami yang masih menolak membayar, Pak Tua itu terlihat memasang raut marah. Tapi aku nggak takut sedikit pun. Dia terlihat mengepalkan tangan, tapi urung karena di situ banyak orang. Kalau dia berani main tangan, aku bersumpah akan langsung menendang Pak Tua itu. Nggak peduli berapapun umurnya. Sikapnya menunjukkan bahwa ia nggak patut di hormati. Apa begini caranya mencari rejeki? Apa bedanya dengan rampok yang menodong minta uang? Atau apa bedanya dengan pengemis yang datang menghampiri? Apa itu juga disebut profesi? Apa bedanya dengan pemerasan?
Rangkaian peristiwa itu berjalan cepat, kurang lebih cuma 5 menit. Tapi terlalu membuat kesal. Dan aku berjanji nggak akan pernah memberikan uang parkir sedikitpun pada Pak Tua itu, mending aku jalan kaki kalau mau ke situ. Bukan masalah nilai mata uang, tapi masalah sikap.

Aku jadi ingat, dulu guru lesku pernah bercerita. Beliau nggak pernah sedikitpun memberi uang pada tukang parkir liar. Dia takut dosa, karena itu bukan hak dari si tukang parkir. Dan kelak, kita juga akan dimintai pertanggungjawaban. Kemana perginya uang parkir liar jelas hanya di kantong si tukang parkir. Aku selalu berpikir, nggak masalah kalau toh uangnya masuk ke kantong si tukang parkir (kalau urusan kita lebih penting dari sekedar beli gorengan 2000rupiah),  anggep aja beramal. Untuk urusan sepele pun nggak masalah, jika tukang parkir liar itu cukup bertanggung jawab nggak sekedar menunggu dibayar, misalnya memandu membantu menyebrang, aku akan dengan senang hati membayar, karena dia sudah membantu dan itu haknya untuk mendapat bayaran.
Tapi, pengecualian untuk tukang parkir yang bersikap seperti Pak Tua itu. Tubuhnya masih kuat, perawakannya tinggi tegap. Mungkin hanya berjarak dua atau tiga tahun lebih tua dari ayahku. Tapi rasa empati pada Pak Tua itu langsung lenyap, sama sekali nggak berbekas. Teori-teori PPKN yang aku pelajari sejak di bangku SD juga langsung terlupakan begitu saja.

Mengingat tukang parkir liar, aku jadi berpikir, apakah di luar negeri sana juga ada tukang parkir?

Jumat, 24 Januari 2014

Ini juga belajar #LatePost

Tips Agar Aman dari Kejahatan di Terminal Bus saat hendak mudik
Naik angkot itu suatu pembelajaran. Apalagi kalo naik angkotnya sendirian, jadi nggak rumpi sendiri di angkot. Dari Surabaya-Terminal Osowilangun. Lalu, dari Terminal Osowilangun-Gresik. Ya, ini kedua kalinya aku naik angkot sendirian, dalam arti nggak ada seorangpun yang aku kenal di angkot itu. Dan ini dalam jarak yang lebih jauh, bukan jarak dari SD-ku ke rumah atau SMP-ku ke rumah, jarak dekat yang pernah aku lalui sendirian saat naik angkot.
Aku belajar untuk lebih mandiri dan lebih berani. Bukan hanya itu, aku yang suka mengamati jadi lebih banyak belajar tentang kehidupan. Menyadari bahwa sebenarnya banyak orang yang tidak seberuntung kita, dan kita jadi malu sendiri lebih sering melihat ke atas.
Dari sini, aku semakin mengerti makna bahwa belajar bukan hanya dari sekolah. Misalnya dari 2kali oper angkot ini, dari hal kecil seperti ini kita bisa lebih belajar kehidupan. Kehidupan yang sangat buas jika kita tak berusaha menjadikannya jinak.
Belajar dari ibu-ibu penjual ikan yang kerepotan membawa bak besar naik turun angkot pertanda bahwa ibu itu pekerja keras- kita akan malu sendiri kalau suka males-malesan, dari kernet angkutan umum di terminal yang meskipun aku nggak naik ke angkutan yang dia tawarkan tapi dia bersedia menunjukkan angkutan yang harus aku naiki, dari supir angkot yang meski capek mengulang-ulang rute yang sama tapi tetap dijalani mengingat kewajibannya untuk mencari nafkah yang halal, dari ibu yang menggendong bayinya memberi perlindungan, dari penumpang angkutan yang peduli dan mengingatkan satu sama lain meski kadang raut mukanya kesal karena posisi kurang "pewe", dari bapak-bapak penjual mainan yang buru-buru turun ketika ada bis dan berganti masuk ke bis untuk menjajahkan dagangannya, juga dari ibu di sebelahku yang cerita panjang lebar padaku tentang kekesalannya pada seorang dokter yang memperlakukannya dengan tidak baik, ingin menuntut tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena hanya rakyat kecil, bercerita tentang anaknya yang sedang menunggu panggilan kerja di sebuah minimarket, dan masih banyak ceritanya seolah kami saling mengenal sebelumnya.
Ya, itu semua suatu pembelajaran yang belum tentu kita dapat di bangku sekolah atau kuliah yang sebagian besar mungkin dari kalangan borjuis. Belajar untuk lebih peduli, lebih peka, lebih tenggang rasa, tidak mengenal pola hidup yang semakin hedon karena saling bersaing satu sama lain. Belajar tentang hidup, belajar untuk lebih bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang. Suatu proses pembelajaran yang asalnya bukan hanya dari teori-teori yang dijelaskan oleh dosen atau kita baca sendiri di buku. Karena dengan praktek dan pengalaman jauh lebih berharga, dan lebih mudah kita pahami setiap maknanya. 

Minggu, 01 Desember 2013

Malam



Aku merasa malamku semakin singkat. Aku terlalu capek untuk menyadari bahwa tiba-tiba hari sudah kembali pagi. Pagi yang mengantarku beraktivitas lagi. Bahkan tidur siang yang menjadi hobiku saat di rumah sudah perlahan-lahan ku tinggalkan.
Melelahkan memang. Jam tidurku tak sebanding dengan rutinitas pagiku. Tapi, mana mungkin aku bisa meminta perpanjangan malam demi menambah tidurku?

Minggu, 17 November 2013

Tentang Waktu

  
Terkadang ada masa-masa dimana aku ingin melompati waktu. Entah itu detik, menit, jam, maupun hari. Berharap bisa menghindari waktu-waktu tertentu yang membuatku merasa tak nyaman. Berdoa agar waktu-waktu itu tak pernah ada.

Ada juga masa-masa dimana aku ingin menahan waktu. Memperlambat jalannya waktu. Merasakan detik demi detiknya lebih lama. Inilah waktu-waktu menyenangkan yang membuatku merasa betah berada di dalamnya.

Atau ada juga masa-masa dimana aku ingin kembali ke masa lalu, pada waktu yang sudah terlewati. Mengulang waktu-waktu tertentu yang membuatku merasa bahwa waktu-waktu itu sangat berharga.

Entahlah, waktu selalu saja begitu. Selalu membuatku bingung. Melaju begitu saja. Tanpa pernah memberiku kesempatan untuk memilih.
-pdp-

Rabu, 13 November 2013

Nenek di Bawah Pohon


Masih di tempat yang sama. Di bawah pohon.
Tak peduli tepat di kanan kirinya ada bangku kayu, lebih tinggi dan lebih bersih. Nenek itu selalu memilih duduk di bawah, diantara dua bangku kayu, tanpa sehelai kain pun sebagai alas, beratapkan daun dan ranting pohon.
Aku melihat si Nenek ketika masuk atau keluar kampus. Kalau sedang tidak terburu-buru, aku sempatkan menyapa si Nenek, "Mbah..." sambil tersenyum. Lalu Nenek akan membalas sapaanku dengan menganggukkan kepala dan berkata "ati-ati, nak" atau "pagi-pagi kok sudah berangkat, nak".
Atau saat pulang kuliah dan cuaca lagi panas-panasnya, si Nenek akan berkata "Kok nggak bawa payung, nak, panas, nak....." Dan tidak lupa selalu berkata "ati-ati, nak".
Atau saat langit lagi baik hati menurunkan gerimis, si Nenek akan berkata "Gerimis, nak. Kok nggak bawa payung..." Kemudian, seperti biasa berkata "ati-ati, nak".
Dialog antara aku dan Nenek memang selalu singkat seperti ini. Walapun begitu, kalau si Nenek nggak ada, mataku selalu mencari-cari sambil bertanya-tanya pada diri sendiri, "Kok Mbah nggak ada?" ; "Apa Mbah pindah tempat?" ; dan lain-lain.
Tiga semester aku mengamati Nenek. Tubuhnya kurus. Ada gurat-gurat lelah di wajahnya. Mungkin usianya sekitar tujuh puluhan. Dengan baju yang lusuh. Baju khas nenek-nenek Jawa. Mengingatkanku pada cara berpakaian Nenekku dari garis Ibu.
Aku selalu merasa iba saat melihat si Nenek. Duduk sendiri, melihat orang-orang yang lalu lalang di depannya. Tanpa orang-orang itu sadari kalau ada si Nenek yang duduk mengamati langkah kaki mereka. Jarang sekali orang-orang menyapa si Nenek atau sekedar menoleh. Tapi untungnya, terkadang ada Pak Satpam kampus yang menemaninya ngobrol dan aku turut senang untuk itu.
Aku nggak pernah tau darimana si Nenek berasal. Rumahnya dimana? Sebenarnya apa yang Nenek itu lakukan di situ? Kemana anak-cucu si Nenek? Kenapa anak-cucunya membiarkan si Nenek duduk di situ panas maupun hujan? Apa mereka nggak khawatir?

Iya, aku heran. Apa Nenek itu punya anak-cucu? Kalau punya, di usia-nya yang sudah rentah seperti sekarang, seharusnya Nenek hanya bersantai di rumah. Diperhatikan dan dilayani. Bukan seperti sekarang, kedinginan dan kepanasan.

Senin, 11 November 2013

Untitled

Emang ya otak dan sikap itu berbanding lurus. Kalo orang yang terbiasa menggunakan otaknya, dalam bersikap pun dia mampu berpikir. Mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang baik dan mana yang buruk.
Hati dan kelakuan pun juga demikian berbanding lurusnya. Orang yang dengan bijak menggunakan hatinya, tanpa berpikir pun ia mampu menentukan mana kelakuan yang benar dan mana yang salah. Mana yang baik dan mana yang buruk.

Otakku selalu menolak ketika aku disalahkan dalam kondisi aku tidak bersalah. Mungkin karena perasaan yang kesal dituduh bersalah.

Misalnya saja anak kecil yang dengan sok taunya bersikap menyebalkan di depan gang dekat kos waktu itu. Dengan nggak sopannya menyuruh turun dengan bentakan. Padahal aku sudah tau aturan itu karena memang sering lewat situ dan memang saat itu aku sedang berhenti karena bersiap turun. Aku jelas langsung mengomel dan menatap kejam pada anak itu hingga dia lapor ke orang tuanya. Trs knp?
Atau bapak-bapak tukang becak yang membelok tanpa mengerem, padahal di depannya ada aku yang jalan ke kos dan di depanku banyak anak SD berjalan baru pulang sekolah. Dan dengan seenaknya bapak itu malah mengomel karena kami berjalan nggak lihat becak di belakang. Memangnya aku dan anak-anak SD itu jalan sambil pegang spion? Aku jelas nggak terima, langsung mengomeli balik. Jelas-jelas kita jalan udah di pinggir, dia yang lewat langsung nyelonong gitu aja dan kita yang harus ngalah. Bahkan aku sempatkan mengomeli lagi ketika bapak itu berpapasan denganku ketika ia putar balik.
Atau mobil-mobil ber-plat nomor merah yang kebut-kebutan di jalan yang dengan seenaknya mengusir sepeda-sepeda yang lewat di depannya dengan menyalakan klakson. Aku yang nggak terima langsung menyalakan klakson balasan seperti yang mobil itu lakukan. Urusan apa yang membuat mobil plat merah itu segitu ngototnya lewat kebut-kebutan? Telat?
Atau orang yang tiba-tiba menyelat antrian kasirku tanpa permisi. Langsung saja aku keluarkan sindiran, dan orang itu cuma tersenyum kikuk tanpa menoleh lalu berlalu begitu saja.
Atau para penjual yang nggak ramah. Dan terkesan malas-malasan. Langsung aku tinggal dengan mengomel. Dia kurang paham dengan kalimat pembeli adalah raja. Meskipun kita juga harus bersikap sopan thdp penjual, tapi bukankah sikap itu akan mengalir begitu saja kalau si penjual juga bersikap demikian?
Atau penjual yang seenaknya melayani orang tidak sesuai dengan urutan kedatangan. Aku akan langsung protes menyampaikan siapa yang datang lebuh dulu.
Atau orang-orang di lampu merah yang sering membunyikan klakson padahal lampu belum hijau. Maksudnya apaan? Biar orang-orang yang paling depan ketabrak gitu karena melawan arus? Atau ketika lampu baru saja hijau orang-orang di belakang sudah ribut menyalakan klakson, tak bisakah mereka menunggu orang-orang di antrian paling depan untuk bersiap-siap?
Atau mengenai orang di lampu merah yang mesin motornya mendadak mati bertepatan lampu sudah hijau. Sering aku menjumpai yang seperti ini dan orang-orang di sekitarnya hanya menyalakan klakson dengan kesal. Sedangkan aku hanya bisa prihatin, bertanya-tanya pada diri sendiri bagaimana kalau orang-orang yang ribut mengklakson ada di posisi orang yang mesin motornya mati tiba-tiba. Orang yang mesinnya mati tiba-tiba itu jelas sudah panik, antara takut ketabrak dan ngerasa nggak enak.  Aku pun berjanji tidak akan mengklakson orang yang kesusahan seperti itu. Pernah sekali aku di posisi orang yang mesin motornya mati tiba-tiba. Dan dengan nggak punya hatinya orang dibelakangku mengklakson keras-keras, lalu menyenggol kasar tasku dengan spionnya, ditambah mengomel. Saat itu posisiku tidak menyetir, tapi duduk di boncengan mbak fia. Begitu mesin menyala, aku langsung menyuruh mbak fia ngebut menjajari sepeda yang dikendarai orang tak berhati di belakangku tadi. Ketika sudah sejajar, aku langsung membuka kaca helm, langsung marah-marah. Memangnya mesin mati mendadak itu mau kita? Kita juga takut ketabrak lah. Apa dia nggak mengenal apa itu toleransi dan peduli? Bapak itu cuma melirik sinis sambil (apa yaa bahasa indonesianya mbleyer" gitu?) Pokoknya itulah. Lalu dia langsung ngebut, padahal dia membonceng dua anak yang masih kecil dan istrinya menggendong bayi. Kok bisa ya memberi contoh buruk pada keluarganya kebut-kebutan di jalan dan memberi contoh agar bersikap kasar ketika ada orang yang kesusahan.
Atau pernah juga, aku hanya melihat karena kebetulan lewat. Waktu itu aku lagi jalan abis pulang kuliah. Ada bapak penjual balon yang sangat kesusahan mendorong sepeda ontelnya, dengan balon-balon besar-kecil bertumpuk-tumpuk. Ketika bapak itu melintasi gang, ada satu sepeda yang dinaiki 2 cewek berboncengan. Jelas mereka berpapasan, antara bapak-bapak yang kesusahan, dan sepeda yang dinaiki 2 cewek itu. Dan anehnya, 2 cewek itu bukannya maklum, malah dengan gampangnya mengumpat ke bapak itu "Jan*** ngebek-ngebek.i dalan ae c**" hah? Ini maksudnya apa? Mereka ini nggak lagi ngomong ke anak kecil, nggak juga ke anak seumuran, ini bapak-bapak tua lho, lah kok dipisuhi. Dan ini sering sekali aku lihat, orang-orang tidak saling kenal yang terhalangi jalannya ketika berpapasan di gang langsung pisuh-memisuh (istilah apaan ini) dengan raut marah.
Entahlah, sejak aku ngekos ini ada-ada saja hal-hal baru yang aku lihat. Masih banyaaaaak lagi yang lainnya. Tapi aku terlalu capek untuk mengetik. Dan setiap peristiwa yang aku ketik justru membangkitkan rasa kesalku. Sebenarnya alasan awal aku ngetik ini juga gara-gara lagi kesal banget sama bapak-bapak becak yang menyebalkan itu. Seenaknya sendiri seolah-olah dialah pemilik jalan di situ. -..-

Dalam hal-hal seperti ini aku sering kali lupa memisahkan antara otak dengan hati. Otakku yang tidak terima bahwa aku disalahkan padahal tidak bersalah. Dan hati nurani yang kadang menahan agar tidak marah-marah. Tapi otak selalu berkuasa, ia jalan lebih dulu. Baru setelah itu hati berperan dalam penyesalan, misalnya nggak sopan marah-marah ke bapak-bapak. Eh, tapi kalau dibiarkan, mentang-mentang bapak-bapak dia jadi bisa berbuat seenaknya dong?

Senin, 22 April 2013

Jepang!

Typical Japanese House by TheJbot on Flickr.
Typical Japanese House
Mungkin efek dari suka banget sama film dan dorama-dorama Jepang, rasanya jadi pengen banget ke Jepang. Ditambah lagi dengan kartun-kartun Jepang yang semuanya bagus, mulai dari Chibi Maruko Chan yang udah gak tayang lagi, Sinchan yang nggak pernah tinggi, sampai ke Doraemon yang Nobitanya selalu kelas 3 SD. Selain itu, juga dengan baca novel Totto-Chan yang asalnya dari Jepang (salah satu novel favoritku), sampai novel Omiyage yang merupakan novel karangan orang Indonesia yang kuliah di Jepang, dua buku ini malah membuatku semakin terobsesi dengan Jepang.

Dari setiap film, dorama, dan novel yang menyangkut Jepang, dapat aku simpulkan bahwa Jepang sangat menarik. Orangnya sopan dan ramah. Kebiasaan-kebiasaan yang menakjubkan.  Makanan-makanan yang unik. Bunga Sakura nya. Bentuk rumah-rumahnya. Kuil nya. Dan masih banyaaak lagi yang melengkapi menariknya negara Jepang.

Kalimat yang aku kutip dari novel Omiyage:
Mungkin inilah ciri khas dari negara maju. semua orang punya urusan masing-masing. sementara di negara yang "masih berharap" untuk maju, kebanyakan isinya adalah orang-orang yang tidak punya urusan, tapi ingin tahu urusan orang lain.
Iya juga sih #lirik tetangga-tetangga.  

Bunga Sakura
Gunung Fuji
Kimono
   

Rabu, 21 November 2012

Tentang Hujan {}




Aku selalu suka hujan. 
Dalam kondisi mood apapun, aku akan menyambut hujan.

Aku selalu percaya, setiap rintik hujan yang jatuh pasti punya cerita. Untuk dinikmati. Dirasakan.
Menghanyutkan. 
Bisa jadi tiba-tiba kita terbius oleh rintikan hujan. Mengantarkan dalam lamunan. Tentang cerita yang sudah terjadi maupun cerita yang kita inginkan bisa terjadi.

Cerita itu tidak dapat dilihat di sela rintikan hujan yang jatuh.
Juga tak akan didengar dalam satu kalimat utuh.
Cerita itu hanya dirasa. Terserah mau hati. Dia yang sibuk sendiri merangkai cerita.
Terserah hati, ia berhak membuat mata kita melihat gambar apapun yang ia mau.
Juga terserah hati, ia akan membuat telinga kita mendengar apapun yang diinginkannya. Ia bisa mengubah suara rintik hujan terdengar seperti lagu indah maupun lagu menyayat hati. Tergantung jalan cerita yang digambarkannya.

Percayalah, hujan akan menjanjikan ketenangan. Coba pejamkan mata sejenak dan hirup aromanya. Sisipkan dalam hati.
Rasakan keajaiban aroma hujan yang akan menarik bibir kita untuk tersenyum.

Percayalah, di setiap hujan berhenti akan selalu ada pelangi. Pelangi itu kadang tak terlihat oleh mata. Namun coba rasakan melalui rona hati yang tiba-tiba terasa berwarna. Menyejukkan.

Aku selalu percaya bahwa hujan identik dengan kedamaian dan ketenangan.
Meskipun hujan telah membasahi pakaianku ketika aku lupa mengangkatnya dari jemuran,
Meskipun hujan telah membuatku menunda pulang kuliah karena aku takut buku-buku ku basah,
Meskipun hujan telah membuat kamar kosku sedikit kebanjiran,
Meskipun hujan membuatku kedinginan,
Meskipun hujan membuatku terus lapar dan menunda aksi dietku,
Meskipun suara gunturnya seringkali membuatku terkejut,
Aku tetap percaya bahwa hujan selalu membawa bingkisan kedamaian. Dari segala yang ku lihat dan ku dengar melalui hati :)

Kamis, 15 November 2012

Kangen :(

Lagi kangen mbah uti sama mbah kung.
Kangen liburan ke Jombang.
Coba mereka masih ada sekarang, pasti aku bisa naik kereta ke Jombang pas pulang kuliah.
Yang membuatku lebih dekat ke mereka dari pada kakek nenek dari ibuku adalah karena sejak kecil aku sering ditinggal di Jombang waktu liburan, sedangkan kakek nenek di Surabaya sudah lama meninggal. Bahkan kakek di surabaya  sudah meninggal sebelum aku lahir.

Lagi bayangin ekspresi kaget mereka pas tiba-tiba aku dateng. Kaget ngelihat cucu-nya yang udah gede, yang dulu kalo ke sana pasti dianter, mendadak berani naik kereta.

Lagi bayangin juga, pasti mbah uti seneng banget nawarin ini itu. Roti Mayar, tahu telor, nasi pecel, bubur, susu sapi dan masih banyak lagi. Duduk-duduk di teras sambil ngelihatin orang lewat. Terus malem-malem nonton sinetron bareng. Pas mau tidur mbah uti ngasih selimut dan mengganti lampu tidur. Plus tambahan mengomel kalo aku baca sambil tidur. Aku kangeeen semua itu. Bener-bener pengen lihat ekspresi mbah uti waktu tau cucu yang beliau tinggal sejak sd, sekarang udah kuliah :'(

Lagi bayangin mbah kung yang serius banget nonton berita. Terus ketiduran di kursi, dan aku berulang kali bangunin mbah kung buat tidur di kamar. Tapi mbah kung cuma tersenyum dan selalu nggak ngaku kalo ketiduran. Kalo aku yang ketiduran di depan tv, mbah kung langsung gelitikin telapak kaki ku sampe aku bangun, terus mbah kung pura-pura nggak tau. Dan nggak ngaku kalo abis gelitikin. Pas malem hari mau tidur, mbah kung akan meletakkan kursi di pinggir kasur biar aku nggak jatuh dari kasur. Aku kangeeen semuanya. Bener-bener pengen lihat ekspresi mbah kung kalo cucunya yang cengeng dan lelet ini, yang udah beliau tinggal sejak smp, sekarang udah kuliah :'(

I miss them so badly

Sabtu, 11 Agustus 2012

JAJANAN SD :3

ICHIBAN

Dari semua jajanan SD, aku paling suka sama cokelat Ichiban. 
Cokelatnya punya bermacam-macam isi. Enak pokoknya :3
Harganya murah, awalnya sih cuma 100 rupiah. terus naik jadi 250 rupiah.
Dan kabar terakhir 300 rupiah.
Sekarang? Ngilang -_-


CHUBA

Untuk versi jajanan asin, aku suka Chuba. Harganya 400 rupiah di kantin SD.
Ada 2 rasa, balado dan keju.
Tapi paling suka yang balado. :3

COKLAT YOSAN - CHOYO

Ini juga enak banget, dulu harganya cuman 200 rupiah.
Ada sendok keciiiil banget untuk makan cokelatnya.
Tapi sekarang dimana nyari cokelat ini -_-

ES MONY

Es Mony ini enak lhooo. Dulu, pertama beli karena tertarik sama bentuknya.
Agak aneh gitu kan es bentuknya segitiga.

ANAKMAS

Ini sejenis mie kering yang dimakan dengan bumbu. Enak :3
Dan mie ini sempet keluar tiruannya. Namanya Anak Mamee.
Tapi tetep anak mas yang lebih top.

PERMEN ROKOK

Enak. Yang jelas nggak mengeluarkan asap.

COKELAT PAYUNG

Ini cokelat bentuknya menarik. Rasanya enak juga sih.
Nggak jelas, kenapa dulu aku ngumpulin batang warna merahnya.
Rasanya sayang banget kalo dibuang -_-

SUPERSTAR

Ini wafer enak dengan bungkus bergambar superman.
Nggak tau deh kenapa gambarnya harus superman?
Bukan powerangers, atau saras 008.

COKLAT AYAM JAGO

Ini asli enak. Yang kecil harganya cuma 100 rupiah. Yang gede kayaknya 500 rupiah.
Tapi sekarang cokelat ayam jago ini bener-bener lenyap.

COKLAT KOIN

Coklat koin yang tipis banget ini harganya dulu cuman 100 rupiah.
Tapi sekarang, setelah survey di beberapa tempat, coklat setipis itu harganya 500 -_-

PERMEN KARET - LOTTE

Permennya tipiiis. Ada bermacam-macam rasa :3

PERMEN KARET - YOSAN

 
Permen karet Yosan ada 2 jenis. Yang satu bungkusnya dari kertas, satunya plastik.
Permen Karet Yosan yang berbungkus kertas ini menariknya, mengumpulkan huruf Y-O-S-A-N.
Yang bisa ngumpulin lengkap bisa dapet hadiah.
Konon, huruf N sangat misterius.
Hanya orang beruntung yang bisa dapet.


PERMEN CICAK

 
Permennya kayak telur cicak, mangkanya disebut permen cicak.
Tapi, walaupun warna-warni rasanya sama semua -_-

MAGIC POP

Ini permen bikin kaget. Gimana nggak kaget, coba? Kalo dimakan tuh meletus di mulut.
Tapi, top deh, tantangan bagi yang ngemut :D

PERMEN PINDY MINT


Permen Pindy Mint ini, rasanya jelaaas mint. Dingin di mulut.
Dulu iklannya bilang gini, "Dingin-dingin empuk".
Dan itu sempet beken di jaman SD dulu.

PERMEN SUSU

Aku lupa namanya :D Tapi nggak lupa sama rasanya.
Enak, rasa susu gitu.
Di dalamnya ada bungkus kayak plastik yang bisa dimakan juga.

CHOCO SNACK - YOSAN

Cara makannya kayak nyam-nyam gitu. Harganya murah cuman 500 rupiah :D

JELLY INACO


Jelly inaco, dulu cuman 100 rupiah.

BUTTER NUT 

Permen kacang yang enak :3

CHIKI

Ini sih sampe sekarang juga ada, cuman beda gambar bungkusnya doang.
Tapi kayaknya enakan yang dulu deh.
Menariknya Chiki ini, di dalemnya ada hadiah tazos :D

JAGOAN NEON

Permen ini bisa bikin lidah kita warna-warni. 
Dulu sih kayaknya keren gitu.
Tapi sekarang udah sadar, pewarna buatan itu bahaya.

PERMEN DREAMY

Enak. Ada 5 rasa.
Milk, Mint, BlackForest, Fruity, Cola.
Dulu suka banget beli permen Dreamy. Sekarang udah nggak ada kayaknya -_-

PERMEN MILKLET

Isinya bulet gepeng, rasa susu dan bikin ketagihan :D

NANO-NANO

Dulu, waktu pergi-pergi (mudik) pasti beli permen nano-nano.
Biasanya di terminal, duluuuu waktu mudik naik bis.
Manis, asam, asin, rameee rasanyaaa~

LIDI

Ini rasanya mak nyuuuss.
Ada yang asin, ada yang pedes.
Enak-enak-enak.

PERMEN TEXAS


Nggak begitu suka sih. Pembungkusnya kurang menarik -_-

BENG-BENG

Beng-beng yang pertama itu yang bungkusnya warna merah.
Dan surprise banget waktu beng-beng punya rasa baruu~

TINI WINI BITI

  
Jadi inget iklannya di TV, "Tini Wini Biti, imut, enak, bergiziii~"
Dulu aku pernah beli Tini Wini Biti satu pak, cuman gara-gara ada hadiah buku mewarnai.
Kenapa nggak langsung beli buku mewarnai ajaaa ~ -_-

SUGUS

Aku sempet punya pikiran kalo ini permen pertama di Indonesia.
Tapi sepertinya bukan -_-

ARBANAT

 
Rasanya maniiiis, dan bikin ketagihan. I like it so much! :3

ARUM MANIS

Mirip sih sama arbanat, tapi arum manis lebih lembut. Lebih mirip sama kapas.
I like it too ~

ES POTONG


Es-nya berwarna pink, ada ketan irengnya.
Per-potong harganya 500 aja.
Bisa minta dilapisin cokelat juga kalo mau.

ES TONG TONG


Suka banget sama es tong tong.
Selain di jual di depan SD, di depan rumah juga ada yang jual keliling *dulu*.
Pertamanya sih cuman 300 rupiah, terus naik jadi 500 rupiah.
Kalo mau ditaruh di gelas, harganya 1000 rupiah, plus roti tawar yang dipotong kecil-kecil.

GULALI

gulali
Gulali yang ini dijual di depan SD. Yang jual si ibu penjual ikan.
Dan sekarang aku tersadar. Kok dulu aku doyan banget beli gulali ini,
Padahal, si ibu ngambilnya pake tangan yang abis obok-obok ikan -_-

Yang ini juga gulali, tapi gulali ini bentuknya padat.
Beda sama gulali yang pertama, yang itu lembek.
Gulali yang ini bisa milih bentuk yang kita mau.


Ini juga gulali, tapi bikinnya dicetak gitu.
Sama enaknya sih.
Semua gulali emang enaaaak :3

LOLIPOP

 
Dulu harganya murah, cuman 500 rupiah.

ES SERUT

 
Es serut ini manis + enak.
Warna-warninya bikin yang liat jadi pengen beli.
Biasanya ditusuk pake kayak tusukan sate.

LEKKER CREPES


Lekker crepes termasuk jajanan baru di depan SD-ku dulu.
Pertama dibuka antriannya langsung panjang.
Padahal untuk kantong anak SD, ini termasuk mahal.
2000 rupiah, untuk yang isinya cuman messes. Kalo mau tambahan keju 3000 rupiah.
Dan masih banyak macam-macam isi yang lain.

BATAGOR


Sampai detik ini, batagor paling enak menurutku adalah batagor yang dijual di depan SD-ku dulu.
Sampai sekarang yang jual tetep orang itu, dan aku masih sering beli di situ :D

TELUR

 
Dua jajanan ini sama-sama dibikin dari telur. Yang jual si bapak di depan SD.
Bisa make telur puyuh, bisa juga telur ayam.
Si bapak ngocok telur di gelas, lalu di kasih kayak sayur gitu. Terus di cetak.
Ada juga yang ditusuk pake tusuk sate.

CIMOL

Rasanya enak, kenyal-kenyal gimanaaa gitu :3

SOSIS

 
Sosis di SD dulum cuman 500 rupiah. Si bapak yang jualan, nggak cuman jual sosis.
Ada patrick, kornet, nugget, stik ayam.
Aku paling suka stik ayam :3 Uang saku bisa abis buat ini doang.

DADAR JAGUNG

 
Ini salah satu makanan favoritku hingga detik ini.
Jaman SD tuh dadar jagung bikinan ibu kantin, enak bangeeet.
Pokoknya aku suka banget sama dadar jagung :3

SATE KELAPA

Rasanya kenyal banget. Per-tusuk cuman 100 rupiah :D
Enaaaak :3

Mungkin emang kebanyakan jajanan SD nggak higienis.
Tapi tetep aja nikmat. :D
Kayaknya masih banyak jajanan SD yang belum disebutin.
Ada yang inget bentuknya, tapi nggak tau namanya :(
Pokoknya kalo inget makanan-makanan pas SD, rasanya pengen balik lagi jadi anak SD. 
-____-